Da'wah Ilallah

Rabu, 22 Desember 2010

Azas Usaha Dakwah ini ialah:

1. Usaha melalui individu atau usaha berjamaah dan bukan usaha ijtima besar-besaran. Usaha dakwah ini tidak mengandalkan bayan atau ceramah atau kefasihan dalam berbicara akan tetapi kerja, zuhud. Inilah usaha yang mesti dikerjakan oleh setiap individu, atau mesti dilakukan dalam berjemaah.

2. Usaha melalui hati dan bukan pikiran. Sejauh mana hatimu menangis, sejauh mana hatimu risau atau sejauh mana terbakarnya hati, atau sejauh mana risau runsingnya hati bukan bagaimana pemikiranmu bekerja, atau bagaimana pemikiranmu membuat rancangan, atau bukan bagaimana pemikiranmu membuat rencana atau bukan bagaimana pemikiran filosofi yang tinggi-tinggi untuk mendapatkan gagasan-gagasan.

3. Usaha melalui qadam dan bukan kalam. Azas usaha ini adalah pergerakan kaki dan bukan penamu. Sejauhmana kakimu bergerak, sejauh mana anda bergerak melalui kaki-kakimu. Sebab anda mesti pergi kepada khalayak ramai. Mereka yang sudah datang ke mesjid mereka mencintai agama. Sedangkan mereka yang belum datang ke mesjid belum mencintai agama. Oleh karena itu maksud dakwah adalah untuk orang-orang ini. Jamaah yang sudah datang ke mesjid kita beri ta'lim. Usaha ta'lim dengan duduk dalam majlis. Akan tetapi dakwah dengan terjun ke bawah, kita datang dari orang ke orang, dari toko ke toko, maksudnya sejauh mana anda bergerak dengan kaki-kakimu, karena kerja ini bukanlah kerja 'sastrawan'. Anda harus berenang dalam lautan manusia, menyelam dalam laut dan mendapatkan mutiara-mutiara. Kita berusaha mendapatkan sedemikian orang yang dapat menerima fikir iman dan amal.

4. Usaha melalui Jan dan bukan Mal, usaha melalui diri bukan harta. Mal (harta) adalah keperluan bagi kita, mal untuk kesenangan kita. Sebagai umpama: jika anda hendak menghafalkan surat Fathihah, apakah anda mesti membelanjakan ratusan ribu atau jutaan rupiah untuk menghafal? Tentu tidak! yang diperlukan adalah masa dan kesungguhan. Karena itu tasykil (ajakan) kita adalah orangnya bukan uangnya atau hartanya. Apabila anda hendak mentasykil, seseorang katakan bahwa "kami memerlukan diri anda dan bukan uang anda".

5. Usaha dengan tawadhu dan bukan aninah. Azas usaha dakwah adalah merendah diri dan bukan sombong atau membanggakan diri. Sombong adalah sifat syaitan. Kita mesti merasa tidak ada apa-apanya. Saya ini kecil. Kita mesti merendah. Sebagaimana pohon apabila sarat dengan buahnya maka ia merunduk. Atau seperti timba apabila hendak menimba air, maka harus dicemlungkan. Demikian pula apabila anda hendak merunduk hatinya maka anda akan dapat buat usaha dalam semua kalangan masyarakat, jika tidak anda akan mengalami berbagai kesulitan.

6. Usaha dakwah dengan damai dan bukan perang (bermusuhan). Anda mesti berdamai dengan semua orang baru anda akan dapat buat usaha.

7. Usaha melalui ittihad dan bukan ikhtilaf. Azas usaha dakwah adalah kesatuan dan bukan perbedaan-perbedaan. Anda berusaha menjauhi perbedaan-perbedaan. Banyak perkara yang dapat kita cari yang membawa pada persatuan. Jikalau anda hendak menyatukan umat, maka sedapat mungkin menjauhkan hal-hal yang membawa kepada perpecahan.

8. Usaha melalui musyawarah dan bukan melalui kediktatoran. Musyawarah adalah mengambil usulan (cadangan) atau pendapat sebelum membuat keputusan. Apabila sudah diambil keputusan maka semua bersifat sami'na waatho'na. Tetapi seorang diktator tidak memerlukan musyawarah, tidak memerlukan pendapat orang lain. Dalam perkara-perkara kolektif yang menyangkut ummat, maka musyawarah adalah sangat penting.

9. Usaha melalui amru bil ma'ruf dan bukan nahi anil munkar. Azas usaha dakwah kita adalah yad'una ilakhoir, menyeru kepada yang baik. Sebagaimana enam sifat kita semua ma'ruf. Apabila gelap maka adakanlah lampu. Apabila amal yang baik hidup maka amal-amal buruk akan pergi. Ketika muadzin melaungkan adzan, apa yang ia serukan? Ia tidak membuat larangan-larangan atau jangan buat ini atau itu. Dengan demikian usaha dakwah kita yaitu mengajak manusia: Hai saudara! marilah ke mesjid, mari duduk ta'lim, mari hadir dalam mesyuwarah, mari duduk dalam majlis, mari ikut jaulah, mari ikut keluar khuruj di jalan Allah, inilah dakwah kita. Bayi yang baru lahir memerlukan ASI (Air Susu Ibu) yang segar dari ibunya bukan daging dan buah-buahan.

10. Usul dan bukan Furu. Azas usaha dakwah kita adalah usaha atas akar dan bukan cabang-cabangnya.

11. Azas usaha dakwah kita adalah Qulyah dan bukan Juz'iyah. Hal-hal yang bersifat universal, hukum-hukum yang umum akan diterima oleh semua orang, tetapi hati-hati karena diantaranya terdapat banyak masalah yang membawa kepada khilafiah. Sebagai contoh: mengajak kepada shalat dapat diterima oleh semua orang, tetapi bahasan shalat secara detail terdapat masalah masail.

12. Azas usaha dakwah kita adalah Ijmal dan bukan Tafshil. Ijmal ertinya singkat, tepat, pendek dan bukan tafsir artinya uraian-uraian secara panjang lebar, penjelasan, argumentasi secara mendetail. Usaha dakwah adalah deklarasi (keterangan atau maklumat), karena itu mesti pendek, tepat dan ringkas.

13. Azas usaha kita adalah Tamsir bukan Tanfir. Tamsir artinya kabar gembira dan bukan tanfir artinya kabar buruk, kebencian. Dalam usaha dakwah ini kita sampaikan kabar gembira. Memberitahukan keutamaan-keutamaan, pahala-pahala, fadhilah-fadhilah, menyampaikan perkara-perkara yang manis, supaya semua orang dapat menerimanya. Jangan kita mengkritik, menyakiti perasaan orang lain dan kita mencerca atau melukai.

14. Azas usaha dakwah kita adalah Istidar dan bukan Ishtihar. Istidar maknanya secara senyap-senyap dan bukan Ishtihar artinya propaganda dengan publikasi untuk pamer kehebatan. Maulana Ilyas rah.a berkata: "Sekiranya usaha ini telah berjalan 1000km tetapi kita mesti merasa masih pendek." Usaha ini adalah kerja kerohanian yang berkaitan dengan iman yakin, dan ikhlas. Sifat-sifat ini ada di dalam hati dan bukan untuk kemasyhuran.

15. Azas usaha dakwah kita adalah Akhirat dan bukan Dunia. Setiap orang berfikir untuk memperbaiki kehidupan dunia mereka, kebalikan dari ini dimana semua nabi memberitahu manusia tentang kesenangan akhirat. Setiap orang berfikir bagaimana dunia saya dapat lebih baik, kebalikan dari ini, Da'i berfikir bagaimana akhirat saya menjadi lebih baik.

Selasa, 02 November 2010

Do'a Maulana Muahamad Saad

Do'a Maulana Muahamad Saad

oleh Abu Ilyas عبد الرحمن pada 02 November 2010 jam 22:51

Ya Allah Ampunkan Dosa-Dosa KamiYa Allah Tutupkanlah Kesalahan-Kesalahan KamiYa Allah Tukarkanlah Keburukan-Keburukan Kami Kepada Kebaikan-KebaikanYa Allah Engkau Masukkan Hakikat Iman Dalam Hati KamiYa Allah Engkaukan Kurniakan Sifat-Sifat Iman Dalam Diri KamiYa Allah Engkau Kurniakan Pengikhtirafan Mu Pada KamiYa Allah Kurniakan Kami Hubungan Yang Khusus Dgn Zat MuYa Allah Engkau Milik Kami Dan Kami Milikmu Ya AllahYa Allah Bantu Kami Dengan Amalan-Amalan Yang Engkau RedhaiYa Allah Tetapkan Kami Dengan Amalan-Amalan Yang Engkau RedhaiYa Allah Kurniakan Istiklas Dan IstiqamatYa Allah Engkau Satukan Umat Ini Dengan Usaha DakwahYa Allah Engkau Jadikan Setiap Individu Umat Ini Daee Agama MuYa Allah Kurniakanlah Kepedihan Atas Keruntuhan Agama Dalam Hati-Hati Umat IniYa Allah Engkau Gunakan Setiap Kemampuan-Kemampuan Kami Dalam Kerja AgamaYa Allah Engkau Gunakan Umat Ini Untuk Buat Pengorbanan Untuk Agama MuYa Allah Engkau Kurniakan Hidayah Pada Seluruh UmatYa Allah Engkaulah Yang Satu-Satunya Yang Membuat Tarbiyah Hakiki Hanya Tarbiyahmulah Yang Hakikat Tarbiyah. Ya Allah Tarbiyahlah Umat Ini Dengan SebaiknyaYa Allah Engkau Kurniakan Kami Dgn Kehidupan Sunnah Nabi SawYa Allah Engkau Hidupkan Kehidupan Sunnah Nabi Saw Pada UmatYa Allah Engkau Kurniakan Kebencian Dalam Hati Kami Cara Kehidupan Orang Kafir Dan Hidupkan Sunnah-Sunnah Dalam Diri KamiYa Allah Keluarkanlah Sifat Kehaiwanan Dan Tidak Berakhlak Dari KamiYa Allah Kurniakan Sifat Insaniyah Dalam Diri KamiYa Allah Tunjuklah Setiap Individu Umat IniYa Allah Amkan Hidayat Pada Seluruh UmatYa Allah Luaskanlah Jalan-Jalan HidayatYa Allah Tutupkanlah Pintu-Pintu BathilYa Allah Hancurkanlah Suara-Suara BathilYa Allah Engkau Gagalkanlah Rancangan-Rancangan BathilYa Allah Peliharalah Usaha-Usaha Agama Ini, Rakan-Rakan Usaha Agama, Markas-Markas Usaha Agama, Masjid-Masjid Buat Usaha Agama, Madrasah-Madrasah Dan Semua Pergerakan-Pergerakan Agama Yang HaqYa Allah Bantulah Kami Dengan Setiap Langkah KamiYa Allah Tunjuklah Kami Dengan Setiap Langkah KamiYa Allah Kurniakan Taufik Untuk Buat Kebaikan-KebaikanYa Allah Bantu Kami Dengan Usaha-Usaha Agama Yang PentingYa Allah Kurniakan Keampunan, Tutupkan Kesalahan-Kesalahan Kami, Mudahkanlah Kami .Ya Allah Kurniakanlah Ihsan Mu Pada Kami.Ya Allah Mudahkan Urusan Kami Dengan Fadhil MuYa Allah Tanamkan Keyakinan Atas Nusrah Ghaibmu Dalam Hati Kami Dank Au Turunkan Nusrah Ghaibmu Pada Kami.Ya Allah Dimana Perlunya Hujan, Engkau Turunkan Hujan Rahmatmu ( 3x )Ya Allah Jangan Pandang Umat Ini Dengan Pandangan Murka Mu Lihatlah Umat Ini Dengan Pandangan Ihsan MuYa Allah Jadikan Umat Ini Menyesal Atas Dosa-Dosa Yang Dilakukan Dan Kurniakan Umat Ini Taufik Untuk BertaubatYa Allah Jangan Hindarkan Rahmat / Ihsan Mu Pada Umat IniYa Allah Kasihanlah Dan Rahmatilah Umat Ini. Kau Turunkan Hujan Rahmatmu ( 3 X )Ya Allah Keluarkanlah Harapan Dalam Hati Kami Pada Ghair, Kurniakan Kami Mtaufik Untuk Mengambil Manafaat Terus Dari Zat MuYa Allah Keluarkanlah Yakin Salah Pada Makhluk Dalam Hati-Hati Kami Dan Tetapkan Kami Dalam Metaati Perintah-Perintah MuYa Allah Pada Orang-Orang Yang Ada Masalah Hutang, Engkau Bantulah Mereka Dengan Pertolongan Ghaibmu Untuk Menyelesaikan Masalah Mereka.Ya Allah Engkau Sembuhkanlah Orang-Orang Yang SakitYa Allah Engkau Keluarkanlah Kelemahan-Kelemahan Zahir Dan Batin KamiYa Allah Engkau Kurniakanlah Kekuatan Zahir Dan Batin KamiYa Allah Pada Mereka Yang Ada Masalah Mahkamah Engkau Bebaskanlah Dari Masalah MerekaYa Allah Kurniakanlah Fikir Akhirat Dalam Hati-Hati UmatYa Allah Hapuskanlah Kelalaian Dalam Diri KamiYa Allah Kurniakanlah Fikir Akhirat Dalam Hati KamiYa Allah Dengan Ihsan Mu / Rahmat Mu Terimalah Doa Kami

Minggu, 17 Oktober 2010

Kalkuzari Maulana Yusuf Rah.A.

Kalkuzari Maulana Yusuf Rah.A.

oleh Abu Ilyas عبد الرحمن pada 10 Oktober 2010 jam 13:39

Ada seorang ahli dakwah datang ke Maulana Yusuf Rah.A. Dia mengatakan, “Wahai Maulana, saya sudah keluar 4 bulan, amal maqomi juga sudah saya jalankan, alhamdullillah tiap tahun saya keluar, tetapi kenapa perasaan saya ini keikhlasan belum masuk ke hati saya.” Ini kerisauan orang tersebut. Apa nasehat Maulana Yusuf Rah.A, “Engkau teruskan dakwah, terus dan terus, sampai kamu bertemu dengan si abdurrahman.” Si orang ini bingung siapa ini si abdurrahman. Akhirnya Maulana Yusuf ceritakan siapa si abdurrahman. Jadi si Abdurrahman ini adalah seorang pemuda kampung yang miskin, hidupnya sebagai kuli tani, bekerja di ladang orang untuk mendapatkan upah. Si Abdurrahman ini mempunyai cita-cita belajar agama di pesantren untuk paham agama. Suatu ketika dia mendengar ada pesantren yang terkenal di suatu kampung. Maka dia niat untuk masuk ke pesantren tersebut belajar dari ulama yang kononnya terkenal dengan kealimannya.

Mulailah si Abdurrahman menabung dari hasil upahnya untuk dapat masuk ke pesantren. Singkat cerita akhirnya uangnya terkumpul dari hasil jerih payahnya. Berangkatlah si abdurrahman ke pesantren tersebut untuk mencari ulama yang dia sering dengar untuk dapat belajar dari dia. Setelah sampai di kampung tempat pesantren tersebut, akhirnya dia baru tahu ternyata ulama yang dia cari ternyata udah meninggal. Mendengar hal tersebut sedihlah si abdurrahman, karena sudah sekian lama dia menabung untuk belajar dengan ulama tersebut ternyata setelah datang si kyai sudah meninggal. Si Abdurrahman akhirnya terpikir, biasanya satu pesantren ini kalau kyainya meninggal pasti ada anaknya atau anggota keluarga lainnya yang sama alimnya yang menggantikan posisi kyai tersebut dalam mengajar. Si Abdurrahman mulai bertanya ke penduduk apakah ada pengganti ulama tersebut. Penduduk kampung bilang yang melanjutkan memimpin pondok pesantren itu adalah anaknya si kyai tersebut. Singkat cerita pergila si abdurrahman ini kerumah anak si ulama tersebut.

Sampai di tempat anak si ulama tersebut, memang dasar si abdurrahman ini mempunya hati yang bersih maka dia selalu menjaga prasangka baik kepada si anak ulama tersebut karena kesungguhannya ingin belajar. Abdurrahman ini mempunyai keyakinan kalau bapaknya ini ulama sholeh pasti anaknya juga seorang alim yang sholeh juga. Padahal si anak ulama ini ternyata tidak seperti bapaknya yang alim dan sholeh. Si anak ulama ini ternyata seorang bergajulan, tidak sholat, pemabok, penjudi, dan kerjakan banyak maksiat. Namun si abdurrahman tidak tahu, dia hanya tau kalau si anak kyai ini pasti orang yang sholeh dan alim juga seperti bapaknya, dan dia datang ingin belajar kepada si anak kyai tersebut. Pada waktu datang ke rumah si anak kyai itu kebetulan si anak kyai ini mempunyai pembantu namanya juga si abdurrahman, yang saat itu sedang pergi beli sesuatu di luar.

Jadi waktu si abdurahman ini mengetuk pintu dan mengucapkan salam, si anak kyai ini rupanya sedang kesal rupanya. Baru masuk rumah si anak kyai ini langsung memarahi si abdurahman, disangkanya yang datang ini adalah pembantunya. Si anak kyai ini marah dan berkata, “Kemana saja kamu Abdurrahman, saya sudah menunggu dari tadi ?” mendengar hal ini si abdurahman terkejut, wah dia terpikir anak kyai ini sungguh kasyaf, saya belum datang dan belum mengutarakan maksud saja dia sudah menunggu saya. Makin yakin saja si abdurrahman untuk belajar kepada anak kyai ini. Waktu dia buka pintu dan menongolkan muka, baru nampaklah muka si abdurahman, maka terkejutlah anak si kyai ini ternyata bukan pembantunya. Maka ditanyalah nama, darimana, dan maksud kedatangan si abdurrahman ini oleh si anak kyai ini. Si Abdurrahman mengutarakan bahwa dia ingin belajar kepada si anak kyai tersebut. Mendengar hal ini si anak kyai bingung, dia bilang ke abdurrahman bahwa dirinya ini bukan kyai. Mendengar hal ini si abdurrahman merasa bahwa anak kyai ini Masya Allah sungguh tawadhu. Bagi si Abdurrahman anak kyai ini seorang kyai yang yang tawadhu tidak mau menunjukkan keulamaannya, maka semakin yakin dia mau belajar kepada si anak kyai ini. Si abdurrahman berkata, “Bagaimanapun juga saya mau nyantri di pesantren, belajar kepada kyai.” Si anak Kyai mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ngajar. Masya Allah di hati si abdurrahman bahwa tawadhu sekali ini seorang ulama mengaku tidak mampu ngajar. Di satu sisi si abdurrahman memaksa untuk belajar, disatu sisi si anak kyai menolak karena dia tidak bisa ngajar.

Melihat keadaan ini si anak kyai ini yakin bahwa si abdurrahman ini seorang pemuda kampung yang bodoh, sehingga timbullah pikiran jahat untuk menjahili si abdurrahman. Si anak kyai ini bertanya kepada Abdurrahman, “Apa kerja kamu ?” abdurrahman menjelaskan bahwa dia bekerja sebagai kuli ladang di kampungnya. Si anak kyai itu berkata, “Bagus, saya punya ladang disana, kamu balik ke kampung kamu lalu kamu tanami ladang saya, kalau kamu mau belajar sama saya, kamu kerja disana nanti 10 tahun lagi kamu balik kemari untuk belajar agama.” Si Abdurrahman ini hatinya bersih dan karena dia sungguh-sungguh ingin belajar agama, dia setujui persyaratan anak kyai tadi. Pergilah si Abdurrahman ini balik ke kampungnya di gunung untuk menjadi kuli ladang kembali menggarap ladang si anak kyai tadi juga. Dia kembali bekerja dengan niat untuk belajar agama disanalah dia bermujahaddah. Dia terus bekerja disana tanpa mempelajari satu alifpun.

Allah Swt Maha Adil dan Maha mengetahui kesucian dan kebersihan niat si Abdurrahman ini. Persis 10 tahun dia bekerja ada seorang ulama besar meninggal dunia di masa itu. Allah Swt dengan QudratNya memindahkan ilmu agama dan pemahaman agama si Ulama tersebut kepada si Abdurrahman tanpa perantara guru. Asbab ini dengan serta merta jadi alim, si abdurrahman pikirannya terbuka dan pemahamannya bertambah. Bagaimana prasangka Abdurrahman saat ini mengalami kejadian yang demikian ? si Abdurrahman berpikir, “Masya Allah guru saya ini luar biasa, dia mengajarkan agama kepada saya dari jarak jauh.” Begitulah sikap abdurrahman memuji kepada gurunya karena sudah mengajarinya agama dari jarak jauh. Akhirnya si Abdurrahman turun dari gunung pergi mengunjungi si anak kyai untuk berterima kasih. Si anak kyai bertanya, “Bagaimana kabar kamu ?” si Abdurrahman menjawab, “Alhamdullillah berkat ajaran pak kyai dari jarak jauh, kini saya sudah jadi alim, paham mengenai banyak hal tentang agama.” Si anak kyai ini tidak percaya, masa hanya dengan bertani sesorang bisa berubah jadi alim. Melihat hal ini karena penasaran si abdurrahman diajak keliling oleh anak kyai ini untuk bertemu ulama-ulama agar bisa membuktikan perkataan abdurrahman ini. Terkejut si anak kyai ini ternyata setelah di test memang betul bahwa si abdurrahman ini alim.

Asbab si Abdurrahman, Allah berikan si anak kyai ini hidayah, bertaubat, lalu menyantri dengan si abdurrahman ini. Ini adalah kisah nyata yang diceritakan oleh masyeikh kita. Disini ada pelajaran yang bisa kita ambil :

1. Niat ikhlas2. Mujahaddah3. Sangka Baik4. Asbab Hidayah

Begitu kita di dalam kerja dakwah ini, kita terus dakwah walaupun dengan segala kelemahan kita, sampai kita ketemu orang seperti si Abdurrahman ini. Berkah dari orang seperti ini akan kita dapatkan asbab kerja dakwah ini. Ini adalah contoh bagaimana Allah akan berikan kepahaman kepada kita kalau kita mau bersusah payah dalam memperjuangkan agama ini. Tidak ada sejarahnya orang dapat pemahaman agama hanya dengan santai-santai dan senang-senang. Kepahaman agama hanya Allah berikan kepada orang yang mau mujahaddah memperjuangkan agama. Sehingga tidak salah langkah dalam agama. Hari ini agama hanya ditafsirkan menurut akal pikiran dan nafsu kita masing-masing karena telah ditinggalkannya mujahaddah. Sehingga mengamalkan agama menurut hawa nafsu, menurut pikiran kita saja, bukannya mengikuti daripada yang di contohkan oleh Rasullullah SAW dan para sahabat RA.

Kita keluar di jalan Allah ini bukan hal yang baru, ini merupakan syarat untuk memahami agama, dengan cara bersusah payah dijalan Allah. Asbab kita tinggalkan mujahadah sehingga hari ini ummat mudah terbawa daripada keinginan-keinginan dari orang kafir agar hidup ini senang-senang dan mewah-mewah. Sementara untuk agama tumbuh subur kita harus bisa zuhud terhada dunia bukannya mewah-mewah. Oleh karena itu kita semua harus siap untuk bermujahaddah di jalan Allah agar Allah beri kepahaman agama kepada kita. Kita keluar dijalan Allah kita belajar zuhud terhadap dunia, bawa pakaian seadanya, masak sendiri nyuci sendiri, kadang-kadang kepanasan, kadang-kadang kedinginan, tidur dilantai, banyak nyamuk dan lain-lain. Ini adalah faktor-faktor yang membuat datangnya hidayah yaitu dengan mujahaddah. Sementara kalau kita dirumah kita dapat kenyamanan makanan disediakan, baju ada yang nyuci, tidur dikasur, sehingga agama susah masuk kalau kita dirumah saja. Asbab kenyamanan di rumah ini membuat kita tidak paham agama, karena mata hati kita tidak terbuka.

Untuk kepahaman atas Al Quran dan Hadits itu membutuhkan sifat Mujahaddah. Jangan pernah merasa cukup mempelajari Al Quran dan Hadits karena kedalamannya sangat luas,agama itu luas, dibutuhkan mujahaddah yang terus menerus untuk memahaminya. Walaupun kita sudah mengamalkan agama tetap akan masih kurang. Maka acuan kita bukanlah pada orang jaman sekarang dalam pengamalan dan pemahaman tetapi Rasullullah SAW dan para Sahabat RA. Dibanding rasullullah SAW dan para sahabat pengamalan kita dan pemahaman agama kita sangat jauh sekali dibanding mereka.

Inilah mengapa kita harus merintis pengorbanan kita agar seperti mereka. Bagaimana ketaatan kita seperti mereka. Untuk itulah kita lagi dan lagi bermujahaddah. Inilah yang perlu kita pahamkan kepada ummat bahwa didalam untuk memahami agama ini penting untuk bersusah payah dijalan Allah Swt. Hari ini ada pemikiran di masyarakat bahwa untuk apa susah-susah dakwah ke kampung-kampung, padahal hari ini ada TV, ada Internet, ada Handphone, ada Radio, lebih luas cakupannya dan lebih banyak penggunanya sehingga point-point dakwah bisa disebar melalui media itu. Padahal kalau kita perhatikan para sahabat dulu mujahaddah berdakwah ke yaman, lalu orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Lalu para sahabat mujahaddah berdakwah ke maghribi, lalu ramai-ramai orang-orang berbondong bondong masuk islam. Masuk ke mesir, ramai-ramai orang-orang masuk islam. Masuk ke Aljazair, ramai-ramai orang masuk islam. Padahal dulu belum ada handphone, televisi, radio, ataupun internet, namun asbab ada mujahaddah para sahabat RA dalam berdakwah orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Sekarang dengan alat-alat modern ini adakah kita dengar orang-orang suatu negeri berbondong-bondong masuk islam ? jawabnya tidak. Jadi terbukanya mata hati bukan lah karena hal-hal seperti itu. Kalaulah memang tv, radio, Handphone, dan radio memang bisa memajukan agama pastilah sudah diberikan kepada Rasullullah SAW oleh Allah Swt. Ini karena Allah Swt berfirman :

“Al yauma akmaltu lakum dinnakum…” Artinya : Hari ini telah sempurna Agama

Tidak memerlukan lagi cara yang seperti itu, cara yang dibawa oleh Nabi SAW adalah cara yang sudah sempurna, tinggal mengikuti saja, jangan pakai akal-akalan kita. Kita tidak menafikan kalau orang mau memakai itu silahkan saja tetapi cara Mujahaddah ini jangan ditinggalkan. Kita akan tambah jauh dari agama jika kita tinggalkan cara Nabi SAW. Sehingga sesam islam sekarang mudah di adu domba, dibenturkan, satu sama lain, sampai terjadi perang sesama islam. Ini karena mereka tidak paham sama agama. Andaikata kita paham dengan agama akan timbul kasih sayang, cintai mencintai, rukun, dan satu hati itu akan terjadi.

Kita belum paham agama karena kita kurang bermujahaddah. Dalam beramal ini, Allah akan bukakan mata hati sejauh mana kita bermujahaddah. Kata para ulama kalau kita beramal akan mendapatkan pahala, tetapi kalau dengan bermujahaddah maka akan mendapatkan hidayah. Contoh kalau kita berwudhu ini akan mendapatkan pahala, tetapi kalau kita berwudhu ditempat yang dingin, dalam keadaan ngantuk, dan lain-lain, selain dapat pahala kita akan dapat hidayah. Kita di Indonesia ini puasa tidak terlalu berat, apalagi di Eropa dimusim dingin, siangnya lebih pendek, lebih enak lagi puasanya. Berbeda kalau kita puasa di negeri arab panasnya luar biasa, siangnya lebih panjang, sedikit-sedikit haus. Kita ini kalau hanya di indonesia saja tidak akan mengalami mujahadahnya beramal di negeri orang. Jika kita mengalamin bermujahaddah di negeri mereka ketika musim panas dan musim dingin, maka hidayah akan datang kepada kita. Kita lihat saudara-saudara kita yang bermujahaddah, iman mereka kuat. Sehingga walaupun ditengah-tengah kemaksiatan, Allah berikan kekuatan untuk mengamalkan agama.

Saya lihat waktu kami ke spanyol, saya lihat orang-orang islam dari marokko, maghribi. Di Marokko Quran ini sudah membudaya. Ketika kami ke morokko kami lihat setiap bada maghrib dan bada subuh seluruh mesjid membaca al quran bersama secara berurutan. Setiap hari membaca 1 juz bersama-sama sehingga dalam 1 bulan mereka sudah biasa mengkhatamkan Al Quran. Ketika kami berjaulah baru kami baca ayat pendek mereka yang meneruskan bacaannya anak-anak muda sudah hafal Quran, banyak sekali kami temui di spanyol. Di bulan puasa biasa bagi mereka terawih baca 1 juz. Semangat Ibadah mereka sangat tinggi, ini di negeri kafir, bagaimana dengan kita disini yang kononnya muslim terbesar. Di negeri kafir penuh dengan kemaksiatan, mereka bisa sholat terawih bacaan Qurannya 1 juz. Ketika kami di Barcelona di markaz tabligh yang konon baru dibangun tahun 1987 agama berkembang pesat. Padahal dulunya kalau orang muslim mengucapkan salam saja bisa marah orang karena merasa panggilan kampungan begitu. Namun asbab ada kerja dakwah kini di Barcelona sholat dzuhur saja ramainya sama seperti sholat jumat. Sebelum tabligh datang, dulu orang-orang Maroko di Barcelona tidak sholat, namun asbab tabligh alhamdullillah, dikota maksiat orang-orang tetap menjaga sholat berjamaahnya. Walaupun kita sedang jaulah orang-orang di bar di tempat-tempat ngopi tapi ketika kita datangin waktu jaulah mereka mendengarkan dengan baik.

Kalau di Spanyol ini banyaknya orang Marokko, lain lagi di Portugal orang islam banyaknya orang Afrika dari Mozzambiek. Mereka membangun mesjid besar dan megah, setiap malam mereka menjamu orang buka dan makan malam sekitar 400 orang setiap harinya. Luar biasa semangat mereka dalam beribadah dan bersedekah. Bahkan kita kira pemerintah mereka yang kononnya tidak menyukai islam, pemerintahan kafir, ternyata mereka justru senang dengan orang islam, bahkan ikut nyumbang dalam membangun mesjid. Hubungan mereka orang islam dengan pemerintah ternyata baik ini karena akhlaqnya bagus, tidak membuat kekacauan sehingga pemerintah sana senang. Disana, Portugal, pemerintahnya memberikan banyak kemudahan-kemudahan dalam menjalankan usaha dakwah. Ini karena mereka melihat orang-orang yang ada salam usaha dakwah ini orangnya baik-baik tidak menganggu politik ataupun yang lainnya, umum jalankan usaha agama saja. Demikian asbab bermujahaddah dijalan Allah sehingga Allah bukakan kemudahan-kemudahan dalam usaha dakwah ini.

Lain lagi di perancis, Jaulah kedua lebih banyak dibanding dari jaulah pertama, beda dengan di Indonesia yang jaulah pertamanya lebih banyak dibanding jaulah keduanya. Ini karena banyak mesjid di Indonesia menjalankan mesjid di jaulah pertama tapi jaulah keduanya tidak. Kalau di perancis mereka menggunakan cara misalnya ada 8 orang di mesjid jaulah pertama, maka semuanya akan bergerak bersama-sama. Tetapi kalau jaulah kedua di perancis ini, yang 8 orang dibagi 4 rombongan dibagi per 2 orang untuk jaulah kedua. Di perancis karena jarang mesjid maka caranya mereka gelar tikar dibawah pohon, lalu waktu adzan mereka jaulah ke flat-flat. Alhamdullillah mereka yang ditaman dan dijalan-jalan, mereka berdatangan, mendengar bayan. Para taskilan, mereka dibawa kebawah pohon seperti piknik untuk di iqrom. Waktu sholat berjamaah mereka berbondong-bondong ikut sholat dibawah pohon. Mereka terus menerus sholat dibawah pohon akhirnya Allah ubah keadaan sehingga kini mesjid bertambah menjadi ribuan mesjid. Sekarang total kurang lebih mesjid di perancis ada 3500 mesjid.

Pernah dulu raja Arab Saudi, raja Faisal ketika itu mengajukan proposal kepada pemerintahan perancis untuk mendirikan mesjid karena susahnya dia nyari mesjid untuk sholat. Mendapat tawaran itu presiden perancis konsulasi dengan para pendeta gereja saat itu untuk menyikapi proposal raja Arab. Mereka membalas surat ke Raja Arab ketika itu yang isinya kalau mereka diperbolehkan mendirikan gereja di mekah, maka raja Faisal diperbolehkan membangun mesjid di Perancis. Mendapat jawaban seperti itu Raja Faisal membatalkan niatnya untuk membangun mesjid. Setelah dengan jalan kekuasaan pemerintah untuk menegakkan agama dengan membangun mesjid tidak mampu dilaksanakan. Namun, alhamdullillas asbab kerja dakwah yang dilakukan dengan cara diam-diam, kini mesjid ada dimana-mana di perancis. Di tahun 1960 an di perancis hanya ada 1 mesjid, kini tahun 2009 jumlah mesjid ada ± 3500 mesjid. Ini kelebihan pemerintahan perancis, hak azasi sangat dihargai bagi warga negara sana.

Suatu ketika di salah satu kota perancis ini ketika adzan dikumandangkan, warga non muslim protest, sehingga diangkatlah kasus ini ke pengadilan. Pengacara orang islam ini pintar, mereka berargument kalau memang mereka terganggu karena suara adzan seharusnya mereka lebih terganggu lagi sama suara bising pesawat di airport, karena lokasinya sangat dengat dengan airport. Jadi kalau memang mau ditetapkan seperti itu maka seharusnya airportpun juga di tiadakan. Akhirnya umat islam menang di pengadilan bisa diterima secara akal. Kalau misalnya mereka tidak suka bising bukannya airport yang digusur tapi merekalah yang harus pindah jauh dari Airport. Begitu juga dengan suara adzan kalau memang tidak suka dengan suara adzan yang tidak seberapa jangan di larang adzannya tapi merekalah yang harus pindah. Alhamdullilah akhirnya yang non muslim pada pindah, dan yang islam pindah kedaerah itu. Demikanlah dengan mujahaddah ini Allah berikan kemudahan-kemudahan.

Juga sudah banyak bukti banyak orang-orang masuk islam asbab Akhlaq. Banyak laki-laki di perancis ingin mencari wanita-wanita islam, karena wanita islam ini taat dan tidak khianat kepada suami. Jadi kalau kita terus bermujahaddah di jalan dakwah ini maka nanti akan datang orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Seperti dijaman Sahabat RA, bahwa orang-orang akan berbondong-bondong masuk islam ketika umat islam sudah sempurna agamanya : Iman nya betul, Ibadahnya Betul, Muamalahnya Betul, Muasyarohnya betul, dan Akhlaqnya betul. Orang yang hidup di luar agama ini hidupnya tidak ada kebahagiaan hanya sangkaannya, kelihatannya bahagia, padahal rohaninya kosong. Memang betul secara dzohiriyah mereka maju dari makanannya, pakaiannya, transportasinya, rumahnya, namun secara rohaniat mereka kosong dan gersang hatinya. Padahal mereka cukup makan uang ada, dan pakaian banyak, tapi tiap hari mereka bengong saja, sehingga untuk menghilangkan kekosongan dan kesusahan dalam hatinya ini akhirnya mereka buat kebiasaan fly atau mabuk-mabukan agar bisa senang. Seharusnya keadaan mereka ini jangan kita benci tapi harus dikasihani, karena sesungguhnya dengan kehidupan seperti itu kehidupan mereka seperti tinggal menunggu adzab saja. Walaupun hidup mewah dan nyaman tapi jika mati tidak membawa iman maka mereka akan di azab selama-lamanya. Kita yang bertanggung jawab atas mereka ini. Dakwahkan agama, Kita bersusah payah datang kepada mereka. Asbab kerisauan kita ini kepada mereka maka Allah akan bukakan mata hati kita, nanti Allah beri kepahaman. Jika mata hati kita menyanyangi umat, maka Allah akan sayang kepada kita.

Mahfum Hadits :

“Irhamu ma fil ardhi yarhamu suma fissama” Artinya : “Kamu kasihani apa yang ada di muka bumi maka ahli langit akan kasih kepada kamu”

Bukannya kita gunjingi atau diperangi mereka, tetapi justru harusnya kita kasihani mereka, kita dakwahkan mereka menyampaikan Kalimat Tauhid. Mereka ini adalah tanggung jawab kita. Agama Islam ini bukan untuk orang islam saja tapi untuk semua manusia.

Allah berfirman :

Innadeena Indallahiil islam : Agama yang diterima oleh Allah hanya Islam

Selain islam tidak akan diterima, dan Allah ini bukannya tuhan untuk umat islam saja tapi Allah ini Rabbunnaas, Tuhan seluruh manusia, bahkan Rabbul Alamin, Tuhan seluruh alam. Dan Nabi Muhammad SAW bukan hanya nabi untuk umat islam saja tetapi untuk seluruh umat manusia.

Allah berfirman :

Wama arsalnaka illa kaffatan linnas : Kami tidak utus engkau Muhammad melainkan untuk seluruh manusia

Begitu juga Al Quran bukan kitab suci bagi umat islam saja, tapi Hudallinnaas, petunjuk bagi seluruh manusia, bukan huda lilmuslimin, petunjuk bagi muslim saja. Sekarang siapa yang mau bertanggung jawab atas umat pada hari ini, yang sebagian besar tidak kenal pada Allah, tidak kenal pada Nabi Saw, tidak kenal pad Al Quran, sedangkan Nabi sudah tidak akan datang lagi. Ini semua adalah tanggung jawab kita untuk menyampaikan ini kepada mereka. Manusia dalam kecelakaan besar, Kalau kita mati tidak ada harta, tidak ada pakaian, tidak ada rumah, ini tidak bahaya selama ada iman, namun jika mati dalam keadaan tidak beriman maka mereka akan disiksa selama-lamanya. Kita harus melanjutkan fikir Nabi Saw dan usaha Nabi Saw. Kita memang bukan Nabi atau Rasul namun Allah muliakan kita dengan mewariskan usaha kenabian kepada ummat ini untuk dilanjutkan.

Jangan kita kecil hati bahwa kita ini lemah banyak kekurangan sementara penduduk manusia miliaran bagaimana mungkin ? Kita harus ambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim AS. Ketika Nabi Ibrahim AS dibakar oleh Namrud Laknatullah Alaih, ada seekor burung kecil bawa air di paruhnya terbang tinggi diatas apinya membawa air bolak balik agar api padam. Malaikat bertanya, “Apa yang kamu kerjakan wahai burung ?” burung menjawab, “sedang berusaha memadamkan api yang membakar kekasih Allah, ibrahim AS.” Malaikat bilang apa manfaatnya membawa air sedikit itu untuk mematikan api yang demikian hebat, belum sampai ke api sudah menguap. Kata burung biar saja tidak apa-apa, yang penting kata burung nanti di akherat ketika Allah bertanya kepadanya, “Wahai Burung adakah kamu menyaksikan kekasihku dibakar, lalu apa yang kamu lakukan ?” Maka aku akan menjawab, “Ya Allah aku hanya bisa membawa sedikit air saja di paruh aku menurut kemampuanku saja, mudah-mudahan dengan amalku yang sedikit ini bisa diterima.” Jadi jangan lihat besar kecilnya dunia kita tapi lihatlah seberapa kemampuan kita. Allah tidak melihat hasil dalam usaha agama ini tapi yang dilihat oleh Allah Swt adalah usaha kita. Nabi Nuh AS 950 tahun dakwah siang malam tapi yang dapat hidayah cuman 80 orang saja, tapi Nabi Nuh AS tidak dianggap gagal oleh Allah SWT. Walaupun dilempari batu tapi usahanya tidak berhenti. Maka Insya Allah kita niatkan ambil bagian dalam Takaza Agama ini.

Wassalam

Kamis, 02 September 2010

Bayan Maulana Sa’ad

Tuan2 yg mulia..

Ilmu dan amal yg tidak ada dengan perantaraan dakwah akan menjadi adat dan ilmu yg diperolehi secara adat akan menjadi perantaraan untuk mencari duit…Ilmu ada dua(jenis) iaitu ilmu di lidah dan ilmu di hati…Ilmu maklumat sahaja tidak cukup…Duduk dalam bayan untuk dapat maklumat, maka kita tidak akan dapat apa2…Ilmu adalah sepertimana yg dikatakan oleh Nabi Khidir as kepada Nabi Musa as ” Carilah olehmu ilmu yg dapat kamu amal”…Ilmu ialah apa (perintah) yg Allah kehendaki ke atas saya…Oleh itu, dalam majlis bayan kita perlu dengar dengan penuh tumpuan bagi menambah yakin kepada Allah Taala dan dengan niat untuk amalkan atau islah diri kita serta menyampaikannya kepada org lain…

Dakwah ialah untuk diri kita, dengan ini kita akan istiqamah…Pintu taubat sentiasa terbuka, kita dakwah org lain untuk diri kita…Keistimewaan dakwah adalah ia akan membina yakin ( ilallah) org yg memberi dakwah…Memberi amaran kepada org lain, org itu tidak akan dapat manfaat tetapi org yg memberi dakwah akan mendapat kesan…Org yg istiqamah (dalam usaha) akan maju dalam membuat usaha… Mereka yg membuat usaha agama dengan tidak faham, akan mendatangkan musibah dan mereka yg membuat usaha agama kerana dunia juga akan mendapat musibah…Maulana Ilyas rah.a berkata terdapat dua golongan org yg membuat usaha usaha tabligh(iaitu) :

1)Mereka yg keluar di jalan Allah untuk menyelesaikanmasalah hutang /sakit /kesusahan…Org yg seperti ini tidak akan istiqamah (dalam usaha)…

2)Mereka yg keluar di jalan Allah (kerana menganggap)itu adalah perintah Allah Taala…Org seperti ini akan istiqamah dalam membuat kerja dan akan mendapat tarbiyyah dan maju (dalam usaha)…

Jalan semua anbiya alaihimussholatu wassalam ialah dakwah… Setiap nabi permulaan usahanya ialah dakwah kalimah tayyibah… Dalam dakwah nabi saw, ada dua golongan( yg menjadi medan) iaitu org yg telah sedia menerima Islam dan golongan yg masih belum menerima Islam… Hari ini salah faham di kalangan ummat, dakwah iman bukan untuk org yg telah beriman… Dakwah iman sebenarnya ialah untuk org2 yg telah beriman…Ini adalah sepertimana difirmankan Allah ” Wahai org2 yg beriman, berimanlah kamu….” .. Manakala untuk org yg masih tidak beriman Allah telah berfirman (mafhumnya)” Berimanlah kamu sebagaimana sahabat beriman “… Nabi saw berkata sahabat adalah seperti bintang2 di langit, barangsiapa yg mengikut salah satu daripada mereka pasti akan berjaya…

Hari ini dakwah iman di kalangan org2 islam telah keluar di kalangan org2 Islam… Dengan dakwah akan wujud iman, dengan iman akan datangnya ihtisab (yakin yg betul dengan janji2 Allah), dengan ihtisab akan menyebabkan seseorang itu dapat beramal… apabila iman lemah, ihtisab akan menjadi lemah dan amal akan menyebabkan tumbuhnya riak…

Para sahabat rahum berkata kami belajar iman dahulu baru belajar al Quran… Para sahabat rahum belajar al Quran untuk memasukkan perintah2 Allah dalam kehidupan mereka… Hari ini ummat membaca al Quran untuk al-faz… (satu ketika) Dalam majlis nabis aw, ada seorang sahabat ra telah mengumpat… Nabi saw bersabda kepadanya ” Kamu tidak beriman dengan al Quran..” … Sahabat ra itu berkata, Sesungguhnya saya beriman dengan al quran ya Nabiyyullah… Nabi saw memberitahunya, org yg beriman dengan al Quran akan menjauhkan driinya daripada larangan al Quran…

Rasulullah saw yg mulia pernah bersabda (mafhumnya), perbaharuilah iman kamu denagn memperbanyakkan dakwah kalimah dan bukan hanya dengan zikir kalimah… Untuk yakin pada diri kita dan untuk dapat ikhlas dalam kalimah iman, kita perlu buat dua kerja iaitu:

1) Bercakap nama dan zat kebesaran Allah
2) Bercakap nizam Allah yg ghaib

Dakwah kita perlu menafikan benda yg tidak nampak dan dakwah ghairullah… Tanpa kita keluarkan yakin kepada ciptaan allah barulah kita akan dapat yakin qudratullah…Maulana Yusuf rah.a berkata, asbab2 dijadikan Allah supaya manusia dapat mengenal Allah Taala… Allah jadikan langit dan bumi, binatang dan seluruh ciptaan Allah untuk manusia ini kenal (kekuasaan) Allah…Di samping itu, Allah Taala telah hantar nabi2 alaihimussholatu wassalam di kalangan ummat untuk memperkenalkan ummat kepada Allah Taala… Seterusnya dalam menguruskan nizamNya, nizam ini akan diubah2 supaya tawajjuh manusia dalam semua keadaan hanya pada Allah…

Tanpa dakwah kehidupan org2 Islam dengan org bukan Islam (menjadi) sama sahaja, malahan kehidupan org2 Islam akan bersatu dengan kehidupan org2 bukan Islam… Org yg mmebuat dakwah akan mendapat nusrah Allah terus menerus… Qudrat Allah akan membantu org2 yg beriman supaya iman yakin mereka tidak rosak… Jika sangkaan org itu kepada Allah lemah, bantuan Allah tidak akan bersama2 dengannya… Abu Darda ra berdoa dengan penuh yakin kepada (janji) Allah dan apabila kebakaran berlaku, rumahnya tidak terbakar.

Untuk mendapat bantuan Allah terus daripada qudratNya, kita perlu bersangka baik kepada Allah kerana Allah bertindak atas sangkaan manusia… Seterusnya dalam beribadah kita perlu ada sifat taat… Ibadah dan taat berjalan seiring dan tidak boleh dipisahkan… Abi bin Hatim ra dahulunya adalah seorang Nasrani dan kemudiannya telah memeluk Islam… Beliau ra telah bertanya kepada Rasulullah saw, mengapa terdapat firman Allah dalam al Quran yg mengatakan mereka telah menjadikan paderi2 mereka sebagai rob mereka… Rasulullah saw bersabda mafhumnya kamu dikatakan beribadah kepada paderi2 kamu kerana apabila mereka mengeluarkan sesuatu hukum( menghalalkan yg haram dan mengharamkan yg halal) maka kamu ikut, itulah sebabnya kamu dikatakan menjadikan paderi2 sebagai Tuhan kamu…

Usaha tabligh biasanya mengadakan majlis2 iman iaitu bercakap keesaan Allah (wahdaniyyah)… Dengan banyak bercakap tentang wahdaniyyah, kita akan putus daripada (yakin dan harap kepada) ghairullah… melalui dakwah kita akan dapat ma’rifah daripada qudrat Allah… Ibnu Mas’ud ra ingin memberi tanah kepada seorang sahabah ra, tetapi ia berkata ia tidak memerlukannya… Kata Ibnu Mas’ud ra, kalau begitu ambillah tanah itu untuk bekalan anak2 kamu… Sahabah ra ini telah menjawab, ini juga tidak perlu sebab ia telah mengajar anak2nya ( istiqamah)membaca surah al Waqi’ah…

Mengambil ubat ketika sakit adalah sunnah nabi saw, tetapi sebelum makan ubat hendaklah kita memberi sadaqah, kerana sadaqah itu menjauhkan kita daripada bala musibah… hari ini org2 mengambil insuran untuk melindungi masa depannya… Nabi saw ada bersabda mafhumnya, barangsiapa yg yakin selain daripada Allah, Allah akan menyerahkannya kepada apa yg diyakininya… Asbab yg ada kita gunakan kerana ini adalah perintah Allah tetapi janganlah kita gunakannya dengan yakin (bahawa ia boleh memberi mudharat atau manfaat)… dengan amal akan datang bantuan Allah Taala… Org Islam hari ini berniaga tetapi hutangnya lebih banyak daripada barang2 dalam kedainya…

Qudrat Allah hanya ada pada zat Allah yg Maha Besar… Maulana yusuf rah.a berkata, apabila kita tidak yakin dengan amal, kita akan bertindak dengan perkara yg haram… Oleh itu, dalam asbabnya tidak ada barakah kerana asas asbabnya adalah daripada sumber yg haram… dan doa org yg seperti ini tidak akan diterima Allah… (Berlakunya perkara) haram dalam asbab kerana kita yakin dengan asbab, kita tidak yakin dengan amal… Allah mengadakan asbab untuk menguji iman manusia… Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk menunaikan keperluan manusia tanpa asbab kerana Allah Taala Maha Berkuasa atas segala2nya.

Org2 yg beriman akan diuji oleh Allah Taala sebagaimana org2 yg terdahulu kerana Allah hendak mendengar(melihat) siapa yg benar siapa yg dusta… Allah perintahkan manusia gunakan asbab (adalah) untuk ujian (atas iman)… Untuk mendapat (manfaat) daripada qudrat Allah, hanyalah melalui perantaraan amal, bukan asbab… Untuk org2 yg beriman, perintah2 Allah adalah amal untuk mendapat manfaat daripada zat Allah… Kita jangan berpuas hati dengan asbab kerana segala asbab Allah jadikan untuk kepuasan org2 kafir… Kita akan berjaya dalam pertentangan dengan org2 kafir dengan adanya perantaraan amal… Qudrat Allah akan bersama2 amal… Allah telah tenangkan nabis aw, janganlah kamu susah hati dengan apa yg diperolehi oleh org2 kafir… Janganlah bimbang walaupun mereka berkumpul beramai2, dan janganlah kamu takut kerana sebenarnya hati2 mereka itu berpecah…

Dalam membuat amal, kita perlu ada sifat sabar kerana Allah telah memerintahkan kita untuk bersabar, solah dan doa… Keburukan amal tidak boleh diselesaikan dengan ibadah semata2… Apakah itu sabar? Iaitu menunaikan perintah2 Allah bertentangan dengan keadaan dan kehendak nafsu kita… Amal puasa itu sebenarnya melakukan perkara yg bertentangan dengan nafsu… Ganjaran untuk sabar adalah syurga… Allah beri kita keinginan untuk tidur dan dalam tidur Allah letakkan perintah (atau amal) bangun malam (tahajjud)… Nabi Musa as telah tanya Allah Taala, adakah Ia tidak tidur? Allah telah perintahkan Musa as pegang dua biji gelas, ternyata ia tertidur dan gelasnya jatuh pecah… Allah berfirman kepada Musa as, jika Allah Taala tidur nescaya apa yg ada seisi dunia ini akan hancur.

Aishah raha mencari waktu panas yg terik untuk berpuasa dan ia bermimpi dapat minum air daripada telaga kautsar… Setelah itu ia tidak lagi merasa dahaga sampai bila2… Hari ini, org2 Islam dianiaya dan kita perlu sabar iaitu sabar dengan taqwa… Bersabar tanpa taqwa itulah dinamakan pengecut… Org2 musyrikin yg tidak yakin dengan Allah Taala, berkata org2 Islam akan sentiasa memenangi semua peperangan kerana yakin dalam amal soleh iaitu perintah2 Allah yg mana menyukakan Allah…

Doa tidak akan diterima jika tiada taqwa… Aus bin Malik ra telah ditangkap oleh musyrikin Quraish dan telah diikat dengan kulit yg susah hendak lepas… Nabi saw beritahu kepadanya, bacalah ‘lahawlawala quwwata illa billahi ‘ dan (setelah membacanya) tali2 yg mengikatnya telah terputus… Di luar kurungan ada seekor unta, ia telah menunggangnya, dan di hadapannya ada berpuluh2 ekor unta milik musuh… Ia menunjuk tangannya kepada unta2 itu dan unta2 itu mengikutnya sampai ke rumah… Dalam hadith nabi saw(mafhumnya), barangsiapa yg banyak membaca lahawlawala quwwata illa billahi, Allah Taala akan menutup 99 musibah dan yg paling kecil ialah kebimbangan…

Ramai org yg bersolah tetapi imannya tidak betul kerana ia tidak yakin dengan amal solah boleh selesaikan masalah2 sebaliknya ia lebih yakin dengan perkara yg tidak ada janji2 Allah Taala… Mereka berjumpa ahli2 nujum(atau sihir) untuk selesaikan masalah2… Syaitan laknatullah pun mengajar Muaz ra, jika seseorang membaca ayatul Kursi tiga kali, syaitan tidak akan masuk ke rumahnya… Muaz ra telah tanya nabi saw mengenai org yg mengajarkannya fadhilah ayatul kursi itu… Nabi saw bersabda (mafhumnya) itulah syaitan kerana syaitan juga yakin dengan perintah2 Allah tetapi tidak mahu amal perintah2 Allah…

Ada org jumpa saya untuk minta tangkal, saya telah tanya balik adakah kamu tidak solah… Abdullah bin Mas’ud ra telah sakit mata dan ada seorang wanita yahudi memakai tangkal dan sakit matanya hilang.. Kata beliau, jangan masukkan amalan syirik dalam diri saya… Org yg sakit mata, syaitan telah letakkan tangannya pada org itu dan Abdullah Mas’ud telah ajar doa yg ditunjukkan oleh nabi saw…

Kejayaan kita adalah dengan menunaikan perintah2 Allah dalam setiap keadaan (dan masa)… Allah Taala mewujudkan hajat supaya kita menunaikan perintah Allah dalam semua keadaan… Allah perintahkan kita mengamalkan keseluruhan agamanya dengan yakin… Tanpa iman, seseorang itu tidak dapat mengamalkan agama dengan istiqamah… Ummat Islam hari ini mengamalkan agama mengikut suasana… Solah lima waktu berat baginya tetapi ia sanggup untuk tidak tidur sepanjang malam supaya hajatnya tertunai… (Maksud)agama bukan untuk barakah… Org akan keluar ke jalan Allah bila masalahnya selesai… Org seperti ini tidak akan istiqamah keluar di jalan Allah..

Maksud kita mengamalkan agama adalah untuk membina iman yakin yg betul pada zat dan kebesaran serta kekuasaan Allah dalam diri kita… Siapa yg hendakkan dunia, Allah Taala akan beri dunia pada mereka tetapi bagi mereka tidak ada apa2 bahagian pun dalam kehidupan akhirat nanti… Oleh itu kita perlu bergerak untuk hidupkan agama di kalangan ummat… Kita perlu usahakan setiap org Islam datang kepada kerja kenabian nabi… Dakwah adalah untuk islah diri sendiri… Apabila kita dakwah amal ma’ruf, maka Allah Taala akan memberi kekuatan untuk beramal ma’ruf… Ummat ini telah tinggalkan kerja amar ma’ruf nahi munkar kerana menganggap dakwah adalah untuk org lain… Syaitan telah wujudkan was2 dalam hati org2 Islam yg berdosa… Kamu sendiri tidak melakukan amal soleh, mengapa kamu dakwahkan org kepada kebajikan sedangkan kamu sendiri tidak beramal dengannya… (Org ini akan tertanya2) Adakah saya perlu dakwah sedangkan saya tidak beramal… Seseorang itu perlu mendakwahkan amal soleh walaupun ia belum beramal dengan sesuatu perkara…

(Dipetik daripada Bayan Subuh: Mesyuarat Malaysia oleh: Maulana Muhammad Saad Kandahlawi-Sept 2003)

Senin, 09 Agustus 2010

Ketabahan seseorang untuk mempertahankan keimanannya

Shuhaib r.a. berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w.: Da­hulu ada seorang raja yang mempunyai seorang ahli sihir, maka ketika telah tua, ia berkata kepada raja: Kini aku telah tua, karena itu kirimlah padaku seorang pemuda yang dapat mempelajari ilmu sihir, supaya dapat menggantikan kedudukankudi sisi raja, jika saya telah meninggal dunia. Ma­ka raja memilih seorang permuda untuk belajar ilmu sihir kepada ahli sihir itu.

Dan kebetulan di jalan yang dilalui pe­muda itu, ada seorang Rahib; maka tertariklah ia kepada Rahib itu, maka ia duduk mendengarkan ajaran-ajarannya, dan merasa puas pada ajaran Rahib itu hingga terlambat datang ke tempat Sahir itu, dan ia dipukul oleh Sahir itu.

Akhirnya ia mengeluh pada Rahib. Berkata Rahib: Jika engkau takut dipukul Sahir, katakan: Bahwa kau masih ditahan (disuruh) oleh ibumu, dan jika kembali terlambat katakan: “Ditahan oleh Sahir”. Maka berjalanlah ia dengan baik keadaaanya, sehingga terjadi pada suatu hari, ketika ia pergi mendadak di tengah jalan ada binatang besar yang menyebabkan orang?orang terhenti, tidak berani berjalan. Maka di situlah pemuda itu berkata: Hari ini aku akan mengetahui, Sahirkah yang lebih baik ajarannya ataukah Rahib? Maka ia mengambil batu sambil berkata: Ya Allah jika ajaran Rahib lebih Kau sukai daripada ajaran Sahir, maka bunuhlah binatang buas ini, supaya orang?orang dapat berjalan.

Kemudian dilempar batu itu, dan seketika itu juga matilah, hingga orang?orang dapat berjalan dengan aman. Maka ia memberitahukan kejadian itu kepada Rahib. Berkata Rahib: Anakku engkau kini lebih utama daripadaku, dan kau nanti akan mendapat ujian (bala’), maka apabila engkau mendapat bala’, janganlah kau tunjuk saya. Kemudian pemuda itu telah mendapat karunia dari Allah hingga ia dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, terutama yang biasa dikatakan oleh manusia: Tidak dapat sembuh, seperti: buta, belang dan lain?lain penyakit.

Maka ada seorang kawan raja sakit mata hingga buta, dan telah ber?ikhtiar kemana-mana tidak juga sembuh. Kemudian datanglah ia kepada pemuda itu dengan membawa hadiah-hadiah yang banyak sekali, sambil berkata: Jika kau dapat meyembuhkan penyakitku, maka dapatlah saya mengumpulkan segala apa saja untukmu. Jawab pemuda itu: Saya tidak dapat menyembuhkan, tetapi Allah yang menyembuhkan, jika kau percaya kepada Allah, maka saya akan berdo’a dan Allah akan menyembuhkan kau. Maka segeralah orang itu percaya kepada Allah kemudian dido’akan oleh pemuda itu, dan seketika itu juga sembuh (dapat melihat).

Kemudian ia pergi ke majlis raja, maka kagumlah raja me­lihat sembuh kembali, raja bertanya: Siapakah yang meyembuhkan matamu? Jawabnya: Tuhanku. Raja bertanya: Apakah kau percaya pada Tuhan selain aku? Jawabnya: Tuhanku dan Tuhanmu (Allah). Maka segera ia disiksa oleh raja supaya kembali kepada agama raja itu, tetapi ia tidak berubah imannya, dan raja terus menyiksa padanya sehingga akhirnya menunjuk kepada pemuda itu. Lalu dipanggil pemuda itu, dan ditanya oleh raja: Hai anakku sihirmu telah melampaui batas sehingga dapat menyembuhkan orang buta dan belang? Jawab pemuda: Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan seorangpun, hanya Allah yang menyembuhkan. Maka segera disiksa oleh raja, hingga terpaksa ia menunjuk Rahib.

Kemudian dipanggil Rahib dan diperintahkan supaya meninggalkan agamanya. Tetapi Rahib tetap menolak perintah raja lalu diambilkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya dan digergaji hingga terbelah dua badannya. Kemudian tibalah giliran yang kedua ialah teman raja itu, maka diperintahkan juga untuk meninggalkan agama Tuhan, inipun menolak perintah raja, yang akhirnya ia juga menerima hukuman gergaji dari atas kepala hingga terbelah menjadi dua. Kemudian didatangkan pemuda itu dan diperintahkan untuk meninggalkan agama Tuhan, ini juga menolak tawaran raja. Maka raja memerintahkan kepada tentaranya supaya membawa pemuda itu ke atas bukit, dan di sana ditawarkan kepadanya untuk melepaskan agama Allah, dan kalau ia tetap menolak maka lemparkan ia dari atas bukit supaya mati.

Kemudian ketika telah sampai di puncak bukit, pemuda itu berdo’a: ALLAHUMMAK FINIIHIM BIMA SYI’TA (Ya Allah hindarkan aku dari bahaya mereka ini sekehendakMu). Mendadak seketika itu bergeraklah bukit sehingga jatuhlah semua tentara raja itu. Dan kembalilah pemuda itu kepada raja. Ditanya oleh raja: Kemana tentara yang membawa kamu? Jawabnya: Allah telah menghindarkan saya dari mereka.

Kemudian raja memerintahkan beberapa tentara yang lain untuk membawa pemuda itu naik perahu dan apabita telah berada di tengah?teagah laut supaya ditawarkaa lagi kepadanya untuk meninggalkan agamanya, dan apabila menolak akan dilemparkan ke laut. Kemudian sesampainya di tengah laut pemuda itu berdo’a: ALLAHUMMAK FINIIHIM BIMA SYI’TA (Ya Allah hindarkan aku dari bahaya mereka itu sekehendakMu), maka terbaliklah perahu itu sehingga tenggelamlah semua tentara itu. Maka pergilah pemuda itu kepada raja: kemana tentara yang membawa kamu? Jawabnya: Allah telah menghindarkan aku dari mereka.

Maka pemuda itu berkata: Hai raja kau tiada dapat membunuh aku kecuali jika kau menurut perintahku. Bertanya raja: Apakah perintahmu? Jawab pemuda itu: Kumpulkan orang?orang (semua rakyat) dalam suatu lapangan, kemudian gantunglah saya di atas sebuah tiang, dan ambillah anak panahku dari tempatnya, serta letakkanlah pada busurnya, kemudian bacalah: BISMILLAH RABBIL GHULAM (Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini) lalu lepaskan anak panah itu kearahku. Bila kau lakukan yang demikian itu niscaya dapatlah kau membunuhku.

Maka segeralah raja mengumpulkan semua rakyat di suatu lapangan, kemudian digantung pemuda itu di atas tiang, dan diambilnya anak panah serta diletakkannya pada busurnya, lalu membaca: ­BISMILLAHIRABBILGHULAM (Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini), lalu di­lepaskannya anak panah itu kepeda pemuda itu tepat menge­nai pelipisnya. Kemudian pemuda itu meletakkan tangannya di atas luka yang kena panah itu hingga mati.

Maka serentak orang?orang yang menghadiri kejadian itu berkata: AAMAN­NA BIRABBIL GHULAM (Kami percaya pada Tuhan pe­muda itu), sehingga kepercayaan kepada Allah merata pada semua lapisan rakyat. Kemudian disampaikan kepada Raja. Tahukah kau yang tadinya kau kuatirkan, kini telah terjadi, semua rakyatmu telah percaya kepada Tuhannya pernuda itu. Maka segera raja memerintahkan membuat parit besar pada tiap?tiap persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamaya, dan siapa yang berjalan diperintahkan untuk meninggalkan agamanya, serta kembali kepada agama raja, sedang yang menolak dibakar didalam api.

Setelah dilaksana­kan hal yang demikian itu, terjadilan diantara sekian banyak orang yang disiksa itu, ada seorang wanita yang membawa bayinya, ketika ia diperintah untuk meninggalkan agamanya,  ia menolak kemudian pada waktu bayinya ditarik untuk dimasukkan ke dalam api, tiba-tiba ibunya akan menyerah karena tidak sampai hati melihat bayinya akan dibakar, namun dengan mendadak si bayi itu dapat berbicara: Hai ibu sabarlah, sungguh kamu dalam kebenaran (hak). (HR Muslim)

Contoh kesabaran dan ketabahan hati dalam mempertahankan iman dan kebenaran yang tiada tara bandingnya, dan demikianlah seharusnya tiap orang mu’min yang benar-benar percaya kepada Allah, dan iman belum diakui benar oleh Allah sebelum mengalami ujian kesungguhan dan kebenarannya.

[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]

Abdul Qahhar Wrote:

Salam ukhwah, saya agak terlewat membaca blog ini mungkin. tapi, saya sudah pun membaca sebahagian besar artikel dalam blog ini.

dah sekian lama saya mencari jawapan kepada persoalan dan tomahan kepada usaha tabligh ini sebenarnya. sebab adalah tak adil jika tidak mendapatkan keterangan dari pengiat tabligh sendiri berkenaan tomahan tersebut.

rata-rata, sikap ahli tabligh yg tidak mahu membicarakan perihal isu dan tomahan ttg tabligh menjadikan org luar susah untuk menerima gerak kerja Tabligh ini.

setelah membaca blog ini, kebanyakkanya persoalan dalam diri saya telah terjawab berkenaan dengan perihal tabligh dari hukum syarak dan menjwab fatwa2 yang terlibat.

kami berharap pihak tuan dapat kembali aktif dlm blog ini untuk terus menerus memberikan kefahaman ttg JT ini sendiri.

harapan dari semua pihak agar semua jemaah dapat bersatu di atas nama Islam, dan berharap agar pimpinan tabligh turut mengesa ahli untuk belajar menerima bezanya jemaah Islam lain pula…

Maradhatillah

Sdr. Abdul Qadhar Yang dimuliakan Allah swt,

1. Para Ulama yang awal-awal terjun dalam usaha da’wah ini merupakan orang-orang yang hafidz dan juga alim dalam urusan ilmu hadits serta bidang ilmu Al-Islam lainnya. Maulana Ilyas Rah mengetahui juga perihal adanya pandangan kritis terhadap usaha da’wah ini, tetapi beliau tidak memberikan pandangan berimbang terhadap pandangan tersebut. Tentunya bagi beliau, apalagi yang mengangkat kembali usaha da’wah ini wujud, mempunyai pertimbangan-pertimbangannya.

Maulana Yusuf Rah juga mengetahui hal ini, beliau adalah seorang ahli hadist dan kita bisa mendapatkan karya beliau yang berkaitan dengan syarh hadist beliau yang dalam terhadap kitab hadits yang disusun Imam Thahawi Rah. Beliau sebagai orang alim, hafidz, dan juga penanggung jawab, serta juga penulis kitab, tentunya beliau perlu memberikan jawaban terhadap pandangan kritis, maka beliau menulis buku “Hayatush Shahabat”.

Kitab ini merupakan pensarian, terhadap topik-topik yang banyak diperbincangkan kaum muslimin terhadap usaha da’wah, sehinga beliau menjelaskan bahwa jika berkeinginan memahami usaha da’wah ini dengan baik maka hendaknya selalu berhubungan dengan sirah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Sirah-sirah ini tersebar dalam berbagai kitab, tidak hanya dalam kitab sirah itu sendiri. Bahkan dalam kitab hadist dan tafsir saja terdapat sirah.

Maulana Yusuf Rah mempersilahkan kepada siapapun, termasuk kepada kaum muslimin yang terlibat dalam usaha da’wah dan tabligh sendiri, untuk menggali secara ILMIYYAH yang berkaitan dengan usaha da’wah. Dan kami sangat setuju dan senang, karena itu memberikan kelonggaran berpikir dan tidak menjadikan kaum muslimin yang terlibat sendiri menjadi katak dalam tempurung. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mendalami.

Artinya bagi kita sendiri, termasuk kami, perlu banyak memperlajari sirah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan para Shahabat RA. Allah swt dengan tegas dan jelas menjelaskan perihal ini, hanya saja kita kaum muslimin kurang memperhatikan dengan baik.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS Yusuf (2): 111)

Al-quran banyak sekali bercerita sirah, bahkan termasuk dialog yang penting antara Allah swt dengan para malaikat sendiri tercatat dengan baik, termasuk pembangkangan Iblish La’natullah.

2. Sekarang ini sebenarnya telah banyak Ulama yang memberikan pandangan tertulis secara baik terhadap pandangan-pandangan yang tidak tepat, dan terdapat juga Ulama ini dari kalangan Ulama Arab sendiri. Bahkan kami telah mendapatkan beberapa tafsir ayat dari yang disampaikan dengan baik oleh seorang Dr. ahli tafsir, yang berkaitan dengan usaha da’wah ini. Penjelasan seperti ini disertai dengan perjalanan para Shahabat RA sendiri, sehingga beliau tetap mengikuti pola tafsir yang telah banyak ditulis para Ulama sebelumnya.

Tulisan-tulisan ini masih di kalangan masyarakat berbahasa Arab. Sehingga tentunya pertumbuhan ILMIYYAH ini akan terus tumbuh dengan sendiri. Karena sebenarnya sumber-sumber Al-Islam sudah begitu luas dan banyak yang ditulis para Ulama sebelumnya, seperti para Imam Mhadzab, para Imam Hadits, dsb.

Kami sering dinasehati sebelum mengenal usaha da’wah ini untuk selalu belajar Al-Islam. Itulah mungkin yang kami tidak pernah berhenti mencari dan mengkaji, apalagi para Ulama da’wah sering menekankan untuk meningkatkan ‘Jiwa Thalab’. Memang kami sendiri tidak mudah untuk mencari dalil dari sumber-sumber para Ulama yang berkaitan dengan usaha da’wah. Para Ulama da’wah tidak mau memberikan beban atau kesulitan terhadap kaum muslimin, sehingga dibuatlah pola yang sederhana dan setiap lapisan kaum muslimin dapat terlibat dengan baik.

3. Kami bisa bayangkan bagaimana akan sulitnya kaum muslimin, jika para Ulama da’wah ini memberikan dalil-dalil secara detail. Jangan-jangan akan menyulitkan, dan akhirnya tidak produktif bagi kaum muslimin. Dan tentunya orang bijak akan melakukan yang bijak pula. Itulah yang kami senangi dan kagum. Dan kami temukan hal ini dari diri Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.

Dan bahkan kami temukan dari kitab-kitab para Ulama dulu, hanya saja kita kurang memperhatikannya. Sebagai contoh saja, Imam Nawawi Rah beliau ini banyak menulis kitab dengan baik. Kitab-kitab itu memperlihatkan tingkatan bagi kaum muslimin sendiri. Apakah semua orang dapat membaca syarh Imam Muslim dan juga Majmu fatwanya? Tetapi beliau menulisan Riyadhush Sholihin, semua orang akan mudah membacanya.

Bagi siapapun, termasuk ahli da’wah, yang mau mendalami dalil-dalilnya yang berkaitan usaha da’wah dan tabligh, maka perlu meniru dengan baik bagaimana para Shahabat RA ataupun para Imam dalam mencari Ilmu. Jangan hanya mau disuapi saja, tetapi carilah ilmu itu. Kita harus meniru seperti Ibnu Abbas Ra ketika mau mendapatkan satu hadist, sampai beliau harus menunggu berjam-jam di rumah shahabat dikarenakan seorang shahabat ini sedang tidur. Atau seperti Imam Muslim, bagaimana beliau mencari ilmu dari berbagai kalangan dan sumber tentunya.

Sehingga kami mengikuti pesan guru-guru kami untuk terus belajar, dan juga para ulama da’wah yaitu untuk meningkatkan ‘Jiwa Thalab’. Dengan begitu kami akan lebih leluasa, karena tentunya para Ulama da’wah, seperti Maulana Ilyas, Maulana Yusuf, dsb, bukanlah ulama yang hanya asal-asalan dalam menetapkan kaidah-pola, tanpa melihat dan mempelajari dari sumber-sumber Ulama sebelumnya. Apalagi keduanya terlahir dari keluarga yang 800 tahun tidak terputus keulamaan di keluarganya. Dan hal ini sangat luar biasa.

4. Kalangan kaum muslimin, apakah itu Ulama, ustadz, ataupun penuntut ilmu, yang banyak memberikan pandangan kritis, bagi kami hal itu merupakan anugrah yang tidak terduga. Di sinilah kami banyak bersyukur. Kenapa? Kalangan kaum muslimin banyak mempelajari, menulis dan mensarikan kitab-kitab secara aktif, tentunya tidak akan lepas dari sumber-sumber para Ulama sebelumnya.

Sudah dijelaskan bahwa para Ulama da’wahpun tidak lepas sumber-sumber Ulama sebelumnya, dan mungkin saja mendapatkan sumber yang sama dan tentunya pasti. Misalkan para Ulama tidak mungkin melepaskan diri dari sumber seperti kitab Imam Bukhari, ataupun Imam Muslim, atau Imam Abu Daud. Sehingga secara automatis akan terangkat berbagai sumber dengan baik.

Mungkin sdr. akan mencari dalil perihal sholat Isyraq (yang biasa dilakukan sekitar jam 6-an), mecari dalil ini tidak mudah. Meskipun Maulana Dzakariya Rah menuliskan dalam kitab fadhilah amal, tetapi beliau hanya mensarikannya. Bisa sdr. bayangkan bagaimana kita mencarinya? Karena kalangan kaum muslimin ini aktif menulis, membaca dan mensarikan kitab para Ulama, maka dengan sendiri akan terbentuk dalam bentuk topik-topik dan index. Sehingga akan lebih mudah. Dan kami temukan penjelasannya dengan baik dari kalangan kaum muslimin yang mungkin masih tidak sreg dengan usaha da’wah.

Atau jika sdr. membaca kitab shohih pilihan yang disusun Syeikh Al-Banni Rah, di bagian pertama hadist di bawah nomor 5. Di bagian itu terdapat keterangan perihal tegaknya Al-islam. Dan wujudnya itu akan masuk ke setiap rumah dan lorong. Kira-kira bagaimana mewujudkannya kalau begitu?

5. Dalam menghadapi perbedaan dengan kaum muslimin lainnya kita perlu saling menghormati, tidak perlu meremehkan, tidak perlu menghina, dan tidak perlu mencibirkannya. Itulah Ikramul Muslimin yang sering disampaikan. Tetapi kita harus mempunyai keteguhan dengan keputusan kita sendiri, bahkan kita perlu dapat menjelaskannya secara ILMIYYAH dan HIKMAH. Sehingga tentunya kaum muslimin yang mempunyai pandangan berbeda pandangan itu akan mendapatkan PANDANGAN BERIMBANG secara ilmiyyah dan hikmah.

Apa yang dipesan salah seorang guru kami (sebelum kami mengikuti usaha da’wah) bahwa banyak sekali perbedaan di kalangan kaum muslimin yang memungkinkan menuju pada perpecahan di kalangan ummat, maka kami dianjurkan mendalami kitabnya perbedaan madzhab yang ditulis Ulama dulu. Dari sisi kami melihat hal itu untuk berpikiran yang luas dan ilmiyyah, dan Maulana Dzakaria Rah menulis hanya dalam satu perkara yaitu wudhu saja sudah perbedaan sampai 60. Kenapa dalam ahli da’wah ditekankan untuk tidak membahas Khilafiyyah, karena tidak mudah untuk membahas itu dan tidak banyak orang yang mampu membahas itu. Kalau salah akan mengakibatkan pertentangan tajam di kalangan kaum muslimin.

6. Kami sama seperti sdr. banyak bertanya terhadap usaha da’wah ini. Tetapi kita harus mempunyai ‘Jiwa Thalab’ untuk mencari, membaca, mensarikan dari sumber-sumber Al-Islam yang telah ditulis para Ulama sebelumnya, dan tentunya kita juga perlu banyak bertemu dengan para Ulama sendiri. Tujuan kita bukan untuk mengajak dalam usaha da’wah dan tabligh, TETAPI untuk mencari ilmu al-Islam yang dapat mengarahkan kehidupan kita mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.

Tidak ada kesuksesan kecuali mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW. Dan itulah para Shahabat RA telah membuktikannya. Maka Maulana Yusuf Rah menjelaskan untuk memahami usaha da’wah ini untuk mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA, karena beliau-beliau ini yang sudah sukses dan dijamin kesuksesannya. Orang bijak dan berpikiran jauh tentunya akan memilih jalur dari orang-orang yang sukses sebelumnya.

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS Ali-Imran (3):31-32)

7. Insya Allah, kami akan berbagi sesuai dengan kemampuan yang kami miliki. Jika ada yang keliru, maka tegurlah kami. Jika ada yang baik, ambilah dan pelajari kembali. Yang benar itu dari Allah swt, dan yang keliru itu dari kelemahan dan kekurangan kami. Kami tidak mempunyai kemampuan memberikan kepahaman, hanya Allah swt yang memberikan kepahaman terhadap usaha da’wah ini. Dan kami masih jauh dan masih banyak belajar dengan usaha da’wah ini. Terimakasih

Karkuzari – Asbab Khuruj 40 Hari dan Khidmat, Hancur Amarah

Karkuzari ini seperti mana yang terdapat di dalam bayan masyaikh (ulama) di Ijtima' Ancol 2007 dengan sedikit perubahan untuk kesesuaian bacaan.

Pembayan mengatakan;

"Hadirin yang mulia, agama yang sempurna belum ada di dalam kehidupan kita. Agama yang sempurna ini akan datang dengan perantaraan usaha. Mereka yang keluar di jalan Allah SWT dan semua orang yang berkumpul di sini atas maksud agama dan semua umat (hanya Allah SWT yang tahu berapa jumlahnya), hendaklah berusaha bagaimana Yakin (iman) ada dalam hati dan meyakini dengan agama sahaja memberi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Agama ini meliputi semua bahagian di dalam kehidupan.

Kita keluar di jalan Allah untuk melatih diri. Sunnah yang sudah lama ditinggalkan, kita latih tatkala semasa keluar di jalan Allah. Banyak sunnah-sunnah yang belum ada di dalam diri hingga menyebabkan timbul perasaan takut dan keberatan untuk mendengar dan mengamalkannya. Bukan setakat itu sahaja, bahkan ada yang merendah-rendahkan dan menghina amalan sunnah. Maka tatkala orang keluar di jalan Allah SWT dengan tanpa dorongan dan arahan sesiapa, asbab suasana yang baik, maka dia ada kekuatan untuk mengamalkan sunnah. Salah satu daripada ribuan hikmah adalah supaya mereka yang keluar di jalan Allah boleh mengamalkan agama dengan berada di tengah persekitaran suasana agama.
Tatkala orang yang keluar di jalan Allah SWT, maka dia akan mendapatkan latihan ini. Sehingga semua amal dilakukan sesuai dengan amalan agama. Sekiranya jemaah yang keluar di jalan Allah SWT berusaha mengikuti tertib yang dikehendaki, maka akan mendapat kesan yang sangat besar dan bermanfaat. Mereka pulang setelah keluar di jalan Allah SWT dengan perubahan di dalam kehidupan. Sehingga orang lain yang melihat daripada kejauhan akan mengatakan, "dia sudah berubah". Cara kehidupannya benar-benar ada perubahan.
Ada orang yang sangat pemarah. Isterinya menyiapkan makanan dan menghidangkan di hadapan suaminya. Apabila suaminya merasa makanan itu terlebih garam, maka dia campakkan makanan itu dan dia katakan kepada isterinya, "Kenapa masukkan banyak garam di  dalam makanan ini, tidak dirasa terlebih dahulu?". Apabila sahaja makanan yang dimakannya itu tidak sesuai dengan seleranya, maka akan dicampakkan makanan itu. Sangat pemarah sekali sehingga isterinya ketakutan. Maka setiap hari isterinya memasak dengan ketakutan dan susah payah. Makanan dihidangkan di depan suaminya dengan perasaan takut dan khuatir.
Dengan taufik Allah SWT, dia keluar di jalan Allah selama 40 hari. Maka tatkala keluar 40 hari ini, beberapa kali dia diberikan tugasan sebagai khidmat (menyediakan makanan untuk jemaah). Dia juga duduk di dalam muzakarah adab makan. Di antara pengisian dalam muzakarah adab makan tersebut ialah makanan adalah daripada rahmat dan sudah ditentukan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW sentiasa makan makanan dengan duduk di bawah (lantai, atas tanah). Makan makanan sebagaimana seorang hamba sahaya.
Setelah 40 hari keluar di jalan Allah SWT itu, dia telah berubah dan dia mula sedar bahawa makanan adalah nikmat Allah SWT. Sehingga dia berasa terhutang budi dengan orang yang memasak untuknya. Isterinya sebagaimana biasa menyediakan makanan dan menghidangkannya di depan suaminya. Setelah dihidangkan, isterinya menunggu dengan ketakutan, jika makanan yang disediakan itu tidak sesuai dengan selera suaminya.
Maka suaminya pun makan makanan yang dihidangkan oleh isterinya dengan perubahan yang ada pada dirinya. Makanan ini adalah nikmat Allah SWT. Seandainya Allah tidak memberi makanan, makanan ini pun tidak mungkin akan dperoleh. Dia memanggil isterinya, didudukkan disampingnya. Dia katakan, "makanan ini lazat sekali, 40 hari lamanya saya tidak merasa kelazatan masakan daripada tanganmu. Apa pun yang engkau masakkan untukku dengan tangganmu, lazat semua rasanya." Maka isterinya mendengar dan menangis. Suaminya yang dahulu pemarah kini berubah dan memuji masakannya.
Bagaimana perubahan ini datang? Maka isterinya pun faham bahawa perubahan terhadap suaminya setelah suaminya keluar di jalan Allah SWT, belajar akhlak dan ikram."
download atau dengar bayan ini di Bayan Ijtima Ancol 2

from karkuzaridakwahiman

Asas-asas Usaha Dakwah

Pandangan penulis (Ustadz Muhammad Qosim At-Timori) berkenaan asas usaha dakwah seperti yang terdapat di dalam buku Panduan Khuruj Fi Sabilillah; Jahabersa cetakan pertama 2003.

Azas Usaha Dakwah ini ialah:
1. Usaha melalui individu atau usaha berjamaah dan bukan usaha ijtima besar-besaran. Usaha dakwah ini tidak mengandalkan bayan atau ceramah atau kefasihan dalam berbicara akan tetapi kerja, zuhud. Inilah usaha yang mesti dikerjakan oleh setiap individu, atau mesti dilakukan dalam berjemaah.

2. Usaha melalui hati dan bukan pikiran. Sejauh mana hatimu menangis, sejauh mana hatimu risau atau sejauh mana terbakarnya hati, atau sejauh mana risau runsingnya hati bukan bagaimana pemikiranmu bekerja, atau bagaimana pemikiranmu membuat rancangan, atau bukan bagaimana pemikiranmu membuat rencana atau bukan bagaimana pemikiran filosofi yang tinggi-tinggi untuk mendapatkan gagasan-gagasan.
3. Usaha melalui qadam dan bukan kalam. Azas usaha ini adalah pergerakan kaki dan bukan penamu. Sejauhmana kakimu bergerak, sejauh mana anda bergerak melalui kaki-kakimu. Sebab anda mesti pergi kepada khalayak ramai. Mereka yang sudah datang ke mesjid mereka mencintai agama. Sedangkan mereka yang belum datang ke mesjid belum mencintai agama. Oleh karena itu maksud dakwah adalah untuk orang-orang ini. Jamaah yang sudah datang ke mesjid kita beri ta'lim. Usaha ta'lim dengan duduk dalam majlis. Akan tetapi dakwah dengan terjun ke bawah, kita datang dari orang ke orang, dari toko ke toko, maksudnya sejauh mana anda bergerak dengan kaki-kakimu, karena kerja ini bukanlah kerja 'sastrawan'. Anda harus berenang dalam lautan manusia, menyelam dalam laut dan mendapatkan mutiara-mutiara. Kita berusaha mendapatkan sedemikian orang yang dapat menerima fikir iman dan amal.
4. Usaha melalui Jan dan bukan Mal, usaha melalui diri bukan harta. Mal (harta) adalah keperluan bagi kita, mal untuk kesenangan kita. Sebagai umpama: jika anda hendak menghafalkan surat Fathihah, apakah anda mesti membelanjakan ratusan ribu atau jutaan rupiah untuk menghafal? Tentu tidak! yang diperlukan adalah masa dan kesungguhan. Karena itu tasykil (ajakan) kita adalah orangnya bukan uangnya atau hartanya. Apabila anda hendak mentasykil, seseorang katakan bahwa "kami memerlukan diri anda dan bukan uang anda".
5. Usaha dengan tawadhu dan bukan aninah. Azas usaha dakwah adalah merendah diri dan bukan sombong atau membanggakan diri. Sombong adalah sifat syaitan. Kita mesti merasa tidak ada apa-apanya. Saya ini kecil. Kita mesti merendah. Sebagaimana pohon apabila sarat dengan buahnya maka ia merunduk. Atau seperti timba apabila hendak menimba air, maka harus dicemlungkan. Demikian pula apabila anda hendak merunduk hatinya maka anda akan dapat buat usaha dalam semua kalangan masyarakat, jika tidak anda akan mengalami berbagai kesulitan.
6. Usaha dakwah dengan damai dan bukan perang (bermusuhan). Anda mesti berdamai dengan semua orang baru anda akan dapat buat usaha.
7. Usaha melalui ittihad dan bukan ikhtilaf. Azas usaha dakwah adalah kesatuan dan bukan perbedaan-perbedaan. Anda berusaha menjauhi perbedaan-perbedaan. Banyak perkara yang dapat kita cari yang membawa pada persatuan. Jikalau anda hendak menyatukan umat, maka sedapat mungkin menjauhkan hal-hal yang membawa kepada perpecahan.
8. Usaha melalui musyawarah dan bukan melalui kediktatoran. Musyawarah adalah mengambil usulan (cadangan) atau pendapat sebelum membuat keputusan. Apabila sudah diambil keputusan maka semua bersifat sami'na waatho'na. Tetapi seorang diktator tidak memerlukan musyawarah, tidak memerlukan pendapat orang lain. Dalam perkara-perkara kolektif yang menyangkut ummat, maka musyawarah adalah sangat penting.
9. Usaha melalui amru bil ma'ruf dan bukan nahi anil munkar. Azas usaha dakwah kita adalah yad'una ilakhoir, menyeru kepada yang baik. Sebagaimana enam sifat kita semua ma'ruf. Apabila gelap maka adakanlah lampu. Apabila amal yang baik hidup maka amal-amal buruk akan pergi. Ketika muadzin melaungkan adzan, apa yang ia serukan? Ia tidak membuat larangan-larangan atau jangan buat ini atau itu. Dengan demikian usaha dakwah kita yaitu mengajak manusia: Hai saudara! marilah ke mesjid, mari duduk ta'lim, mari hadir dalam mesyuwarah, mari duduk dalam majlis, mari ikut jaulah, mari ikut keluar khuruj di jalan Allah, inilah dakwah kita. Bayi yang baru lahir memerlukan ASI (Air Susu Ibu) yang segar dari ibunya bukan daging dan buah-buahan.
10. Usul dan bukan Furu. Azas usaha dakwah kita adalah usaha atas akar dan bukan cabang-cabangnya.
11. Azas usaha dakwah kita adalah Qulyah dan bukan Juz'iyah. Hal-hal yang bersifat universal, hukum-hukum yang umum akan diterima oleh semua orang, tetapi hati-hati karena diantaranya terdapat banyak masalah yang membawa kepada khilafiah. Sebagai contoh: mengajak kepada shalat dapat diterima oleh semua orang, tetapi bahasan shalat secara detail terdapat masalah masail.
12. Azas usaha dakwah kita adalah Ijmal dan bukan Tafshil. Ijmal ertinya singkat, tepat, pendek dan bukan tafsir artinya uraian-uraian secara panjang lebar, penjelasan, argumentasi secara mendetail. Usaha dakwah adalah deklarasi (keterangan atau maklumat), karena itu mesti pendek, tepat dan ringkas.
13. Azas usaha kita adalah Tamsir bukan Tanfir. Tamsir artinya kabar gembira dan bukan tanfir artinya kabar buruk, kebencian. Dalam usaha dakwah ini kita sampaikan kabar gembira. Memberitahukan keutamaan-keutamaan, pahala-pahala, fadhilah-fadhilah, menyampaikan perkara-perkara yang manis, supaya semua orang dapat menerimanya. Jangan kita mengkritik, menyakiti perasaan orang lain dan kita mencerca atau melukai.
14. Azas usaha dakwah kita adalah Istidar dan bukan Ishtihar. Istidar maknanya secara senyap-senyap dan bukan Ishtihar artinya propaganda dengan publikasi untuk pamer kehebatan. Maulana Ilyas rah.a berkata: "Sekiranya usaha ini telah berjalan 1000km tetapi kita mesti merasa masih pendek." Usaha ini adalah kerja kerohanian yang berkaitan dengan iman yakin, dan ikhlas. Sifat-sifat ini ada di dalam hati dan bukan untuk kemasyhuran.
15. Azas usaha dakwah kita adalah Akhirat dan bukan Dunia. Setiap orang berfikir untuk memperbaiki kehidupan dunia mereka, kebalikan dari ini dimana semua nabi memberitahu manusia tentang kesenangan akhirat. Setiap orang berfikir bagaimana dunia saya dapat lebih baik, kebalikan dari ini, Da'i berfikir bagaimana akhirat saya menjadi lebih baik.

from: karkuzaridakwahiman

Sabtu, 07 Agustus 2010

Bayan Mufti Luthfi Al Banjari - Ciri-ciri Lelaki

Mufti Luthfi Al Banjari
Musyawarah Indonesia
Mesjid Jami Kebon Jeruk
Jakarta, 10 November 2001
BAYAN SUBUH

 

Allah pencipta segala sesuatu. Segala sesuatu itu tidak ada yang sia-sia Allah ciptakan. Allah tidak pernah salah, dan selalu benar selama-lamanya.

1. Kenapa orang Allah jadikan Miskin ?
2. Kenapa orang Allah jadikan Kaya ?
3. Kenapa orang Allah jadikan laki-laki ?
4. Kenapa orang Allah jadikan perempuan ?
5. Kenapa orang Allah jadikan Sakit atau Cacat ?
Ini semua adalah keputusan-keputusan Allah yang mempunyai Hikmah masing-masing. Orang kaya mempunyai Hikmah dengan kekayaannya. Orang miskin mempunyai Hikmah dengan kemiskinannya. Begitu juga laki-laki, perempuan, dan orang cacat atau sakit. Semuanya punya Hikmah masing-masing.
Allah telah ciptakan manusia sesuai dengan fitrahnya dalam agama. Seperti ikan fitrahnya hidup dalam air, jika diluar air maka ikan ini akan menderita. Walaupun ikan ini diletakkan pada kasur yang empuk atau takhta yang terbuat dari emas, maka ikan ini tetap akan menderita. Tetapi kalau ikan ini diletakkan dalam embar kecil yang buruk dan kotor tetapi ada air maka ikan ini akan bahagia. Begitu juga manusia, kalau tidak ada agama walaupun ia tinggal di istana mewah, dengan perempuan yang cantik-cantik menemaninya, kasurnya empuk dan penjaganya banyak, tetapi tidak ada Agama wujud dalam dirinya maka orang ini tetap akan menderita. Walaupun seseorang bajunya compang camping, Istana gak punya, tidurnya hanya dibawah pohon tanpa kasur, maka ia tetap akan bahagia kalau agama ini wujud dalam dirinya. Seorang utusan Romawi berkata ketika melihat Umar RA tertidur dibawah pohon dengan tenang, ia membandingkannya dengan raja romawi yang tidak bisa tidur tenang walaupun di Istana mewah.
Jika semua ini berjalan sesuai dengan Fitrah maka rahmat akan turun. Kerusakan adalah jika sesuatu yang Allah telah tetapkan fungsinya mau berjalan diluar fungsi. Jika laki-laki ingin jadi seperti wanita dan wanita ingin jadi seperti laki-laki inilah kerusakan.
Ciri pertama laki-laki :
1. Sholat di mesjid : Perempuan sholatnya dirumah
Di dalam Al Qur’an diterangkan hanya laki-laki yang pergi ke mesjid, sedangkan perempuan sholatnya dirumah. Jadi laki-laki yang sholatnya dirumah ini banci. Jika kita mau lihat bangsa ini jantan atau tidak lihat mesjidnya, penuh atau tidak. Jika kita mau menikahkan anak kita, tanya apakah dia sholat di mesjid atau di rumah. Jangan nikahkan anak anda yang nantinya anak dia hanya menjadi ahli-ahli dunia saja. Targetkan menjadi Dai, baru nikahkan.
2. Dakwah : Berani menyampaikan yang Haq dan mengajak orang ke mesjid
Para Anbiya tidak ada yang perempuan, semuanya laki-laki. Jadi tugas dakwah ini adalah tugas laki-laki. Laki-laki yang tidak mau dakwah walaupun ia sholat 5 waktu ini sama seperti laki2x yang mandul atau impotent. Malu menunjukkan kelaki-lakiannya pada orang. Tetapi tidak malu dilihat Allah. Ego yang paling jahat adalah orang yang sibuk beragama sendirian dan tidak peduli orang lain. Dalam riwayat seorang Abid asyik dengan ibadahnya sendirian ketika Allah hendak menurunkan Azab Allah perintahkan dimulai dari Abid itu. Jibril AS bertanya kenapa ? karena si abid tidak pernah merah pipinya atau panas hatinya melihat kedzaliman disekelilingnya.
3. Menepati Janji yang telah diucapkan : Bisa dijaga kata-katanya
Ketika dia mengucapakan kalimat maka ia menyadari bahwa dirinya sudah berjanji di hadapan Allah, maka dia akan sungguh-sungguh menjalankan agama ini. Seorang Sahabat diberikan Ghanimah hasil kemenangan perang umat Islam, tetapi ia malah menangis. Nabi SAW bertanya kenapa ia menangis. Ia menjawab, “saya perang bukan untuk mendapatkan Ghanimah tetapi saya berperang untuk di syahidkan di jalan Allah.” Lalu Nabi SAW bersabda :
“Jika kamu benarkan Janjimu kepada Allah, Maka Allah akan benarkan Janjinya kepadamu.”
Perintah yang paling berat di kota mekah bagi sahabat adalah agar mereka dapat menahan diri mereka dari mengangkat pedang karena ini perintah Nabi SAW. Sama seperti preman yang di hina atau kyainya di hina oleh orang lalu kyai tersebut nyuruh preman itu sabar. Menurut kamu beratan mana bagi itu preman menahan tangannya atau menghujamkan tangannya ke orang itu. Begitulah sahabat yang mereka diperintahkan harus menahan pedangnya.
“ Seseorang tidak akan mampu mengangkat pedang di jalan Allah sebelum ia mampu menahan mengangkat pedang karena Allah.”
Bagaimana Ali RA ketika ia hendak menebas leher musuhnya di medan perang lalu musuhnya meludahi. Ketika itu pula Ali RA meninggalkan musuhnya yang akan ditebas. Melihat hal itu sang musuh mengejarnya dan bertanya kenapa Ali RA tidak jadi menebasnya. Lalu Ali RA menjawab, “Aku tidak jadi menebasmu karena aku takut ketika kamu meludahiku timbul rasa marah sehingga aku takut niatku membunuh karena Allah ternodai oleh nafsu amarahku.”
Yang namanya kemenangan bukannya menebas leher musuh dengan ujung pedang, tetapi yang namanya kemenangan dalam Islam yaitu ketika melihat manusia masuk Islam berbondong-bondong.
Nabi SAW ketika ditodong oleh seseorang dengan pedang, orang itu berkata, “Siapa yang akan meolongmu dari pedangku.” Lalu Nabi SAW menjawab, “ALLAH”, seketika pedangnya jatuh, lalu diambil oleh Nabi SAW dan ditodongkan ke leher si penodong tersebut. Lalu Nabi SAW balik bertanya siapa yang akan menolongmu ? maka orang itu menjawab bahwa nabi ini adalah orang yang berakhlaq baik ia memohon untuk dibebaskan dengan jaminan ia akam berdakwah kepada teman2x kampungnya. Maka dibebaskanlah oleh Rasul SAW sehingga ia masuk Islam dan hidupkan dakwah di kampungnya. Bukan menundukkan leher, tetapi menundukkan hati yang Allah mau.
Ibrahim AS diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya yang paling dicintai, apakah Allah Dzalim ? tidak, karena Allah pingin hati Ibrahim AS hanya tunduk kepada Allah saja. Begitu juga pada Ismail AS, apakah Ismail AS rela ditebas. Jadi ujian ini untuk mereka anak dan bapak agar meluruskan kepada siapa hati mereka harus tunduk. Sehingga ketika Ismail hendak disembelih maka Allah ganti dengan Domba.
Dengan Dakwah nanti Allah hancurkan musuh Islam dengan caranya sendiri :
1. Nyamuk yang lemah mengalahkan Raja Namrud yang besar
2. Air yang menyelamatkan Musa AS tetapi menenggelamkan Firaun
3. Bumi yang menelah Qorun dan harta2xnya
4. Kaum Luth dengan sekali teriakan malaikat, dll
Allah punya banyak cara, dan jika yang dibelakangnya Allah siapa yang mampu mengalahkannya. Dengan Batu saja tank-tank canggih bisa hancur jika Allah dibelakangnya. Yang paling penting kekuatan dibelakangnya, seperti kekuatan dibelakang Nyamuk Namrud.
Ketika Futuh Mekah, orang Quraish khawatir mereka akan ditebas oleh Nabi SAW dan sahabat-sahabatnya. Tetapi apa yang dicontohkan oleh Rasullullah SAW. Saat semua pedang siap bicara untuk membalas keluarga yang dibunuh, kenangan ketika dihina, diusir, dikucilkan dari mekah. Tetapi apa kata Nabi, “Aku membebaskan kalian sebagaimana Yusuf AS membebaskan saudara-saudaranya.” Siapa yang mampu melakukan demikian ? Hanya Dai yang mempunya rasa sayang kepada umat.
4. Berani Perang di jalan Allah : Hanya laki-laki yang berperang dijalan Allah
Jika tidak berani keluar di jalan Allah ini bukan pejantan, yang pengecut itu adalah orang-orang yang tidak berani meninggalkan harta, anak, dan isteri untuk agama Allah. Bukan orang-orang yang keluar di jalan Allah, ini keliru namanya. orang2x yang takut keluar di jalan Allah perlu ditanyakan kelaki-lakiannya. Orang beriman harus berani berperang dan punya pedang dirumahnya masing2x. Mati dan Hidup ditangan Allah. Jika Allah pingin mati tidak ada seorangpun yang mampu menahannya. Kalau Allah ingin seseorang hidup, walaupun 100 pedang yang dipegang oleh jawara-jawaranya, kalau Allah tidak izinkan maka tidak akan terjadi. Mati atau hidup ini hak patent Allah.
5. Pemimpin di rumahnya : Tegas bukannya takut pada anak dan isteri
Menjadi Pemimpin dirumahnya karena laki2x yang dipimpin wanita dirumahnya ini bukan laki-laki. Laki-laki yang baik adalah yang memimpin wanita, dan wanita yang jahat adalah yang mau memimpin laki-laki. Jangan sampai suami berada dibawah ketiak isteri, sedikit2x musyawarah karena takut. Allah benci ama laki-laki yang takut ama isterinya. Apalagi isteri yang menghalangi suami dari jalan Allah. dahulu kalau Sahabat, istrinya sudah diceraikan jika menghalangi suami keluar di jalan Allah, kisah anak Abu Bakar RA.
6. Menghidupkan Taklim dirumah : Peran Pembimbing Nampak
Kelakian akan nampak jika suami ikut taklim dirumah bersama dengan isteri. Peran laki-lakinya sebagai pembimbing nampak didepan isterinya. Isteri tidak akan bisa melihat kelakian suami jika suami tidak hadir dirumah untuk taklim
Allah berfirman : “ Selamatkan dirimu dan keluargamu dari Api Neraka”
Isteri ikut dalam dakwah dengan dzikir dan risau akan menambah kekuatan dakwah 35 x lebih ampuh minimal. Sebagaimana Aisyah ketika Nabi mengeluh bahwa Sahabat ketika perjanjian Hudaibiyah tidak mau turut kata Nabi. Lalu Aisyah R.ha berkata Sahabat tuli dari mendengar sabda Nabi SAW karena mereka terlarut sedih yang dalam. Mereka risau melihat perjanjian Hudaibiyah yang timpang sebelah. Lalu Aisyah R.ha menyuruh Nabi amalkan saja sabdanya, lakukan saja, karena mereka masih bisa melihat. Setelah dilakukan langsung seluruh Sahabat mengikutinya dengan semangat walaupun sedih. Jadi umat sekarang tuli, hanya lewat amal yang dapat menggugah hati mereka. Isteri seperti inilah yang bisa menjadi asbab hidayah dan menguatkan usaha dakwah kita.
7. Memberi Nafkah : Bukan wanitanya yang kerja
Memberi Nafkah ini adalah kerjanya laki-laki. Nabi SAW pulang perang sampai di rumah ia menyuapkan isterinya. Jangan biarkan isteri yang kerja. Hilang kejantanan suami jika rela membiarkan isterinya kerja. Isteri kerja bisa jadi asbab menjadi pemimpin bagi laki-laki.
Sudah menjadi keputusan Allah siapa saja yang mau bahagia harus jalankan agama secara sempurna baik secara umat maupun individu : laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Seperti Ibrahim AS, istri dan anak disertai dalam perjuangan. Dakwah tidak akan maju jika hanya laki-laki yang mengerjakan kerja dakwah. Semua laki-laki dan perempuan harus ikut berpartisipasi dalam kerja agama dalam rumah, dalam kampus, dalam kantor, dalam segala aspek kehidupan, dari bayi hingga orang tua, dari miskin hingga orang kaya, dari pengangguran hingga pejabat, dari yang bodoh hingga yang pinter, semuanya harus ambil partisipasi.
Agama tidak akan wujud tanpa kerja sama laki-laki dan perempuan. Bukan dalam mencetak anak, ini binatang juga bisa. Bukan dalam membuat rumah, ini orang kafir juga bisa bahkan lebih pandai. Tetapi kerja sama dalam menegakkan Agama. Ketika wahyu pertama kali turun, pertama kali yang ditemui nabi SAW adalah istrinya dulu bukan yang lain. Syetan faham potensi wanita sehingga potensi ini digunakan dalam kerjanya setan.
Kisah seorang setan mengganggu abid dan alim dengan cerita onta masuk ke dalam lobang jarum. Abid gugur karena tidak punya ilmu sedang alim lolos karena dia bilang terserah Allah mau membesarkan lubang jarumnya atau mengecilkan ontanya. Tetapi si Alim ini gugur oleh seorang wanita. Kisah Bal’am ulama yang mampu membuat taklim di awan dan ilmunya katanya bisa menggetarkan Arasy Allah. Namun celaka karena seorang wanita dan kesabaran setan dalam menyesatkan bal’am melalui seorang wanita. Kejahatan wanita ini bisa melebihi dari 1000 laki-laki jahat, namun kebaikan wanita ini dapat melebihi 70 laki-laki sholeh. Potensi wanita dapat mempercepat laki-laki masuk surga dengan 70 kali kecepatan. Apalagi bagi istri yang disertakan dalam dakwah.
Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW umatnya banyak karena istri mendukung perjuangan agama dan di ikut sertakan. Nabi Nuh AS cuman dapet 83 pengikut dari 950 tahun umurnya. Nabi Luth bahkan tidak ada sama sekali karena istri menentangnya. Untuk itu penting kita buat usaha diantara kaum wanita. Rusaknya laki-laki karena rusaknya wanita, rusaknya anak karena rusaknya ibu sebagai pemimpin ketika suami tidak ada. Kita perlu bawa istri, anak perempuan kita, ibu kita kedalam fikir agama dan usaha atas agama. Dengan ada kerja sama ini maka Agama akan berkembang dan akan umat akan terperbaiki.

Karkuzari Mimpi & Pengalaman Sheikh Abdur Rahmaan As-Sudais dengan Jemaah

Karkuzari(laporan) ini tertera di ruangan perbincangan sunniforum. Kemudian dihebahkan oleh rakan seusaha kita di Fb. Semoga Allah Swt memberi taufik dan hidayah kepada kita dan seluruh umat Islam untuk memahami dan menghargai usaha/ kerja agama yang mulia ini.


1. Karkuzari Jemaah Khuruj

Satu jemaah di dalam perjalanan khuruj ke United Kingdom, kapal terbang ini berhenti (sementara) di Lapangan Terbang Moscow, Rusia. Seorang daripada kami diputuskan untuk melaungkan azan dan seorang lagi menjadi Imam setelah kami bermesyuarat. Selepas menyempurnakan solat, kami melihat Imam Masjidil Haram, Sheikh Abdur Rahman as Sudais turut bersama-sama kami di dalam solat itu.
Sheikh telah meletakkan tangannya di bahu kami dan berkata, "Antum min Jama'atid Da'wah?" (Adakah anda semua daripada jemaah da'wah?') Kami menjawab, "Alhamdulillah, kami sedang berada di jalan Allah, dan kami berhenti di sini buat sementara waktu (transit ke UK)."
Sheikh senyum kepada kami dan berdoa dan berkata; "Di dalam dunia ini yang penuh dengan kemungkaran, tiada jemaah yang dilihat membawa kebaikan seperti kamu semua lakukan."
Allah Swt telah memberi Sheikh kecintaan kepada kami, sehingga beliau telah memberi kad nama beliau kepada kami dan berkata, "Bila-bila sahaja kamu datang ke Mekah untuk Haji, umrah atau apa sahaja, temuilah saya."
Selepas beberapa lama daripada peristiwa itu, beberapa orang daripada jemaah itu pergi ke Mekah. Mereka hendak berjumpa dengan Sheikh tetapi pengawal keselamatan telah menghalang mereka. Namun, selepas menunjukkan kad yang diberi oleh Sheikh, mereka membenarkan jemaah itu berjumpa dengan Sheikh.
Sheikh Abdur Rahman as Sudais memeluk mereka dan mengalu-alukan ketibaan jemaah itu, dan memperkenalkan jemaah dengan ulama-ulama besar di sana dan berkata, "Kami adalah Imam-Imam bagi dunia ini dan mereka (jemaah itu) adalah Imam kami, kami pernah bersolat di belakang mereka."
2. Karkuzari Mimpi
Pada suatu malam, Sheikh Abdur Rahman Sudais, Imam Masjidil Haram melihat Rasulullah s.a.w di dalam mimpinya. Di dalam mimpinya itu, satu jenazah sedang diangkat dan Rasulullah s.a.w sedang menunggu jenazah itu. Sheikh Sudais bertanya jenazah siapakah itu, dan Rasulullah s.a.w berkata kepadanya bahawa jenazah itu adalah jenazah Umar Palampuri daripada al-Hind (benua India).
Selepas bangkit daripada tidurnya, Sheikh Sudais mencari-cari siapakah Umar Palampuri dan mendapat tahu bahawa Umar Palampuri adalah seorang Maulana besar di dalam Jemaah Tabligh dan baru sahaja meninggal dunia. Kemudian, beliau menulis satu surat takziah kepada anak Maulana Umar Palampuri, Maulana Yunus, di mana beliau telah meriwayatkan mimpi beliau itu.
Maulana Yunus Palampuri kemudiannya telah membaca surat daripada Sheikh Sudais kepada saudara-saudara Arab yang berada di perhimpunan di Nizamuddin, Delhi. Salah seorang daripada saudara Arab yang hadir di perhimpunan itu meriwayatkan kisah ini kepada bapa saya, dan daripada saya kini telah sampai kepada kamu sekalian.
Rakan-rakan seusaha di fb dalam perbincangan karkuzari ini, ada memberi karkuzari bahawa Syeikh As-Sudais pernah menghadiri Ijtima Tonggi dan pernah khuruj 40 hari ke Afrika. Boleh ke pautan nota Hanif.
Beberapa kisah Maulana Umar Palampuri di blog Ustaz Hambali - Maulana Umar Palampuri rah
Wallahu a'lam.

From: karkuzaridakwahiman

Rabu, 04 Agustus 2010

Iman Islam

Assalamualaikum wr wb

Postingan senada ini sebetul sudah saya muat disini, tetapi untuk mempertegas postingan sebelum ini, maka saya posting ulang lagi dengan beberapa updating disana sini, untuk kenyamanan memahaminya. penjelasan ini bukan untuk memaksakan pendapat pribadi saya. tapi bagaimana sama sama memahami. dan saya akan terus berusaha menjelaskan, sampai kapan? mungkin akan berlanjut sampai saya mati, sampai anak cucu saya, sampai hari kiamat, sampai semua sama sama memahami.

Postingan ini juga saya buat atas rasa prihatin atas kecenderungan Ummat akhir zaman yang terjebak dalam penggunaan akal (logika) yang tidak pada tempatnya.

Juga sebagai niat baik untuk menjawab kerisauan hati saudara saya, adik saya, yg jauh di Banjar Baru sana, juga yang di Cianjur sana, semoga bermanfaat.

—————————-

………………. Ummat manusia saat ini sering terjebak perasaan pintar pemberian ALLAH yang ada pada dirinya , merasa punya logika paling hebat, terjebak perasaan bahwa segala sesuatu ini terjadi karena dia pintar, karena dia yang punya logika, tidak ada campur tangan ALLAH padahal sesungguhnya keadaan Ummat saat ini jauh lebih bodoh, lebih jahiliyah, melebihi dari pada bodoh dan jahilnya Kaum Quraisy di zaman ketika Rasulullah Saw pertama kali mendakwahkan Islam. Dan manusia saat ini bahkan hampir berada pada derajat terendah mendekati hewan.

Diumpamakan orang orang kafir adalah seperti Handphone canggih tanpa kartu Chips, bentuk nya bagus, teknologinya mutakhir, tapi tak ada koneksi ke jaringan telepon. Handphone nya memang mahal tapi fungsi nya tak lebih dari sebuah calculator atau mainan biasa.
Ummat Islam sekarang ini seperti ini Handphone Butut yang memiliki kartu Chips, tapi tak punya pulsa, ada koneksi kejaringan, tapi tak bisa buat komunikasi apa apa, bahkan untuk mengirim 1(satu) SMS sekalipun.

Ummat Islam saat ini seperti orang tak punya pulsa tapi bergaya sedang menelepon, gaya nya seperti sedang menelepon sesuatu yang sangat penting, padahal cuma pura pura menelepon atau mendengar instruksi pengisian pulsa dari operator yang memang gratis ga perlu pulsa..


Ummat Islam saat ini seperti seorang anak muda yang sangat piawai dalam menulis SMS, pintar merangkai kata-kata manis dan indah untuk sang pacar, tetapi sayang SMS nya nyangkut di dalam out box, karena dikirim lewat handpone yang tak punya pulsa. Begitulah nasib Ummat Islam sekarang, kata kata dalam Doa dan Dzikir nya bagus bagus tetapi hakekat Doa dan Dzikir itu tidak naik kelangit. begitulah nasib Ummat Islam sekarang

Logika nya cerdas, tetapi IMAN nya lemah.

————————-

Begitulah bunyi Tausiah Kultum, yang dibawakan seorang ustadz beberapa saat sebelum Sholat Tarawih di Musholla Baitunnur, pada hari terakhir menjelang Romadhon berakhir.

Ustadz yang cerdas bisik hati saya…

Orang kafir secara dzahir memang sepertinya sukses, harta nya banyak, pendidikannya tinggi, menguasai teknologi, tapi di dalam hatinya nya tidak ada IMAN tidak ada Kalimat Mulia LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Orang orang ini tak ada komunikasi dengan DZAT ALLAH…… ALLAH Subhaanahu Wata’ala (SWT), TUHAN MUHAMMAD Saw, TUHAN kita, TUHAN saya, TUHAN bapak-bapak, TUHAN Musa a.s.

Maka orang-orang ini sebetulnya tidak punya fungsi sama sekali di dunia ini. Tidak punya kekuatan apa apa, lemah, kosong…

Ummat Islam saat ini (beliau/penceramah menghususkan Ummat Islam Indonesia) walau pun Butut tapi masih punya koneksi ke jaringan telepon, karena di dalam hati mereka ada Kalimat Mulia, Kalimat Syahadat, yaitu kalimat LAA ILAAHA ILLALAAH, walaupun kalimat ini di dapat nya dari warisan orang tua (karena dilahirkan oleh orang tua Islam/Muslim).

Tapi jangan gembira dulu, Ummat Islam saat ini sudah Handphone nya butut tak punya pulsa pula. Diakui oleh ALLAH SWT sebagai hamba-NYA tetapi tak dapat berkomunikasi dengan ALLAH SWT. Tak ada kekuatan untuk membangun komunikasi dengan ALLAH SWT.

Seperti halnya Handphone tanpa pulsa, bisa nya cuma menerima panggilan saja, cuma bisa pasrah, itu pun kalo ada yang ingat nelepon, kalau tidak? kadang 2 sampai 3 hari tak ada dering panggilan masuk. Dicuekin….

Begitu juga keadaan Ummat Islam saat ini, tak ada kekuatan untuk membuat komunikasi, membuat koneksi kepada ALLAH, maka kepedulian ALLAH terhadap Ummat Islam sekarang pun sekedarnya saja. Bahkan cenderung seperti dibiarkan saja oleh ALLAH SWT, dicuekin..????

Dzkir dan Doa nya penuh kalimat yang bagus-bagus, panjang-panjang, dan keras-keras, tapi nasibnya sama seperti SMS tanpa pulsa tadi, Dzikir dan Doa ini tidak naik kelangit, tidak sampai kepada ALLAH, maka tidak dapat mengundang pertolongan ALLAH, karena tak ada pulsa.

IMAN adalah Pulsa bagi UMMAT ISLAM, semakin besar Pulsa yang terakumulasi dalam sebuah Handphone maka semakin banyak komunikasi yang dapat dibuat, begitu juga IMAN dalam Hati UMMAT ISLAM.

Semakin besar IMAN terakumulasi di dalam Hati maka semakin mudah dan kuat untuk membuat komunikasi dengan Dzat ALLAH.

Sebagaimana Handpone bila dia memiliki pulsa, tidak perlu dengan rangkaian SMS yang indah indah, satu kosa kata saja, karena ada pulsa, maka SMS itu terkirim. Begitu juga manusia bila dalam hatinya ada IMAN maka Doa dan Dzikir itu akan sampai kepada Dzat ALLAH, dan akan terjawab, Doa dan Dzikir itu segera dikabulkan.

Maka perkara yang sangat penting, urgent, mendesak bagi Ummat Islam saat ini adalah bagaimana mengusahakan IMAN? belajar IMAN?

Namun celakanya ummat Islam saat ini terjebak (terpenjara) dalam pembangunan logika saja, mempercanggih Handpone nya tetapi melupakan kartu chips nya. melupakan pembangunan koneksi jaringan. Melupakan pembangunan IMAN yang akan membuat koneksi dengan Tuhan nya, ALLAH Subhanahu wataala…

Karena kekuatan Ummat Islam ada pada IMAN nya, walau dia cuma tamat SD kalau IMAN nya betul dan sempurna maka dia akan kuat, karena ada pertolongan ALLAH dalam setiap gerak langkahnya.

Sebaliknya walau dia seorang profesor, tetapi dalam hatinya tidak ada IMAN maka dia akan lemah, karena dia bekerja hanya mengandalkan otaknya saja, logika nya saja, mak agerak langkahnya tidak mendapatkan pertolongan ALLAH.

Kelihatannya aja dia kuat, namun dia seperti fatamorgana, karena sesungguhnya dia lemah, kekuatannya SEMU.

Maka jadilah Ummat Islam saat ini seperti orang gila? bagaimana tidak, orang yang pura pura menelepon dengan telepon tanpa pulsa? atau sengaja memaksa nelepon walau pulsa nya kosong, apa bukan orang bodoh? jahiliyah? orang gila?

Ummat ini juga melupakan 1 hal yang paling menentukan dalam kehidupan nya, dan paling bernilai melebihi Logika nya, perkara itu bernama …. PETUNJUK

from:  was